Jumat, 09 Januari 2015

review jurnal


URGENSI PEMBANGUNAN AGROINDUSTRI KELAPA SAWIT 
BERKELANJUTAN UNTUK MENGURANGI PEMANASAN 
GLOBAL

Wawan Kurniawan
Jurusan Teknik Industri, FTI Universitas Trisakti
Di Riview oleh Fadhil faturochman
Jurusan Teknik Industri, FTI Universitas Mercu Buana

PENDAHULUAN
Di jaman modern ini Perkembangan agroindustri kelapa sawit sangat menarik untuk dicermati, ada pengaruh positif terutama pada meningkatnya penghasilan petani kelapa sawit dan pengusaha yang terlibat dalam agroindustri ini, tetapi di pihak lain banyaknya masalah-masalah negatif yang muncul. Menurut Soekartawi (2001), pembangunan agroindustri berkelanjutan (sustainable agroindutrial development) adalah pembangunan agroindustri yang mendasarkan diri pada konsep berkelanjutan (sustainable), dimana agroindustri yang dimaksudkan adalah dibangun dan dikembangkan dengan memperhatikan aspek-aspek manajemen dan konservasi daya alam, maka industri kelapa sawit yang berkelanjutan paling tidak harus memenuhi tiga prinsip utama yaitu:
1.      Melindungi dan memperbaiki lingkungan alam (Environmentally sound)
2.      Laik secara ekonomi (Economically viable)
3.      Diterima secara social (Socially accepted)

TUJUAN dan METODE PENULISAN
Dengan mempelajari urgensi pembangunan industri kelapa sawit berkelanjutan untuk mengurangi pemanasan global dengan membahas dari berbagai kebijakan dan instrumen manajemen lingkungan yang berkaitan dengan agroindustri kelapa sawit. Jurnal ini terdiri dari berbagai literatur yang sesuai dengan masalah pembangunan berkelanjutan, pemanasan global, dan kelapa sawit.

PEMBAHASAN
Dalam pengembangan agroindustri kelapa sawit ternyata menimbulkan beberapa masalah, antara lain masalah di perkebunan kelapa sawit dalam hal pembukaan lahan dan pada proses pembuangan limbah. Dari berbagai literatur dampat disimpulkan beberapa dampak negatif dari pengembangan kelapa sawit, antara lain:
1.   Penggunaan lahan gambut untuk perkebunan lahan sawit yang salah.
2.   Hutan alam menjadi sangat monokultur, hutan seharusnya menjadi sumber penangkap carbon.
3.  Terganggunya Keseimbangan ekologis.
4.    Kebutuhan tanaman kelapa sawit yang sangat haus akan air tanah.

. Agroindustri kelapa sawit yang berkelanjutan paling tidak harus memenuhi tiga prinsip utama yaitu:
1. Melindungi dan memperbaiki lingkungan alam (Environmentally sound)
2. Layak secara ekonomi (Economically viable)
3. Diterima secara social (Socially accepted)

Siklus tanaman perkebunan kelapa sawit minimum 25 tahun, maka kerangka berkelanjutan harus berlangsung minimal selama 25 tahun. Selain menerapkan prinsip tersebut perlu adanya kebijakan manajemen lingkungan yang berkaitan dengan agroindustri kelapa sawit berkelanjutan antara lain AMDAL, Ecolabelling, standar ISO 14000, hutan lesatri, audit lingkungan, cleaner production dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Di jaman sekarang ini tersedia teknologi baru hasil dari PPKS maupun dari institusi penelitian dalam dan luar negeri di bidang budidaya dan pengolahan kelapa sawit yang lebih ramah lenigkungan. Beberapa teknologi tersebut antara lain:
*      Pembukaan lahan tanpa bakar
*      Peningkatan biodiversitas
*       Peningkatan efisiensi penggunaan energi
*      Pencegahan erosi tanah
*      Daur ulang unsur hara
*      Pengendalian hama dan penyakit secara biologis.

Produksi Bersih sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang preventif dan diterapkan secara terus-menerus pada proses produksi, serta daur hidup produk dan jasa untuk meningkatkan eko-efisiensi dengan tujuan mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan, walaupun produksi bersih sifatnya sukarela dan tidak wajib. Agroindustri kelapa sawit perlu menerapkannya karena bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan dengan lebih bersifat proaktif. Sebagai contoh pada tahun 2004 teknologi pengelolaan limbah hasil penelitian PPKS. Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) sifatnya sangat merusak kualitas ekologi perairan tempat pembuangannya, karena itu harus dikelola dikelola dengan baik layak untuk dibuang ke perairan umum. Beberapa pendekatan yang diterapkan dalam pengelolaan atau pengendalian LCPKS adalah:
  1. Konservasi air. 
  2. Pengaturan penggunaan air dengan efektif (Good in-house keeping)  
  3. Upaya menurunkan BOD dibawah batas maksimum yang ditetapkan pemerintah.
Stakeholders perkelapasawitan Indonesia dan dunia mengadakan pertemuan yang diadakan yang dinamakan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Bertujuan meminimalkan dampak dan isu negatif terhadap bisnis kelapa sawit. Terdapat 8 prinsip dan kriteria minyak sawit yang berkelanjutan berdasar pada kelayakan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor penyediaan bibit berkualitas budaya kerja, dan kultur teknis. Pemerintah Indonesia harus membenahi terlebih dahulu ketiga faktor utama tersebut, selain faktor lingkungan dan teknologi pengolahan.

KESIMPULAN
Pembangunan agroindustri kelapa sawit berkelanjutan sangat penting untuk diterapkan karena dapat membantu mengurangi pemanasan global. Untuk keberlangsungannya perlu diberlakukan keharusan penerapan berbagai sistem manajemen seperti ISO 9000, ISO 22000, HACCP, ISO 14000 dan OHSAS 18000 serta Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) oleh berbagai pihak terkait industri kelapa sawit.

SARAN
  1. Seberapa besar kelapa sawit dalam menyumbang pemanasan global belum dikaji secara mendetail.
  2. Apakah semua perkebunan kelapa sawit melakukan hal-hal yang berdampak negatif terhadap lingkungan.
  3. Upaya sederhana yang bisa dilakukan oleh para pemilik perkebunan kelapa sawit yang dikelola perorangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar