URGENSI PEMBANGUNAN AGROINDUSTRI KELAPA SAWIT
BERKELANJUTAN UNTUK MENGURANGI PEMANASAN
GLOBAL
PENDAHULUAN
Wawan Kurniawan
Jurusan
Teknik Industri, FTI Universitas Trisakti
Di Riview oleh Fadhil faturochman
Jurusan Teknik
Industri, FTI Universitas Mercu Buana
PENDAHULUAN
Di jaman modern ini Perkembangan agroindustri
kelapa sawit sangat menarik untuk dicermati, ada pengaruh positif terutama pada
meningkatnya penghasilan petani kelapa sawit dan pengusaha yang terlibat dalam
agroindustri ini, tetapi di pihak lain banyaknya masalah-masalah negatif yang
muncul. Menurut Soekartawi (2001), pembangunan agroindustri berkelanjutan (sustainable
agroindutrial development) adalah pembangunan agroindustri yang mendasarkan
diri pada konsep berkelanjutan (sustainable), dimana agroindustri yang
dimaksudkan adalah dibangun dan dikembangkan dengan memperhatikan aspek-aspek
manajemen dan konservasi daya alam, maka industri kelapa sawit yang
berkelanjutan paling tidak harus memenuhi tiga prinsip utama yaitu:
1. Melindungi dan
memperbaiki lingkungan alam (Environmentally sound)
2. Laik secara
ekonomi (Economically viable)
3.
Diterima secara
social (Socially accepted)
TUJUAN
dan METODE PENULISAN
Dengan mempelajari
urgensi pembangunan industri kelapa sawit berkelanjutan untuk mengurangi
pemanasan global dengan membahas dari berbagai kebijakan dan instrumen
manajemen lingkungan yang berkaitan dengan agroindustri kelapa sawit. Jurnal
ini terdiri dari berbagai literatur yang sesuai dengan masalah pembangunan
berkelanjutan, pemanasan global, dan kelapa sawit.
PEMBAHASAN
Dalam pengembangan agroindustri kelapa sawit
ternyata menimbulkan beberapa masalah, antara lain masalah di perkebunan kelapa
sawit dalam hal pembukaan lahan dan pada proses pembuangan limbah. Dari
berbagai literatur dampat disimpulkan beberapa dampak negatif dari pengembangan
kelapa sawit, antara lain:
1. Penggunaan
lahan gambut untuk perkebunan lahan sawit yang salah.
2. Hutan
alam menjadi sangat monokultur, hutan seharusnya menjadi sumber penangkap
carbon.
3. Terganggunya
Keseimbangan ekologis.
4.
Kebutuhan tanaman kelapa sawit yang sangat haus
akan air tanah.
. Agroindustri kelapa sawit yang berkelanjutan
paling tidak harus memenuhi tiga prinsip utama yaitu:
1. Melindungi
dan memperbaiki lingkungan alam (Environmentally sound)
2. Layak secara
ekonomi (Economically viable)
3. Diterima
secara social (Socially accepted)
Siklus tanaman
perkebunan kelapa sawit minimum 25 tahun, maka kerangka berkelanjutan harus berlangsung
minimal selama 25 tahun. Selain menerapkan prinsip tersebut perlu adanya
kebijakan manajemen lingkungan yang berkaitan dengan
agroindustri kelapa sawit berkelanjutan antara lain AMDAL, Ecolabelling,
standar ISO 14000, hutan lesatri, audit lingkungan, cleaner production dan Roundtable
on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Di jaman sekarang
ini tersedia teknologi baru hasil dari PPKS maupun dari institusi penelitian
dalam dan luar negeri di bidang budidaya dan pengolahan kelapa sawit yang lebih
ramah lenigkungan. Beberapa teknologi tersebut antara lain:
Produksi Bersih
sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang preventif dan diterapkan
secara terus-menerus pada proses produksi, serta daur hidup produk dan jasa
untuk meningkatkan eko-efisiensi dengan tujuan mengurangi risiko terhadap
manusia dan lingkungan, walaupun produksi bersih sifatnya sukarela dan tidak
wajib. Agroindustri kelapa sawit perlu menerapkannya karena bertujuan
meningkatkan kualitas lingkungan dengan lebih bersifat proaktif. Sebagai contoh
pada tahun 2004 teknologi pengelolaan limbah hasil penelitian PPKS. Limbah Cair
Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) sifatnya sangat merusak kualitas ekologi perairan
tempat pembuangannya, karena itu harus dikelola dikelola dengan baik layak
untuk dibuang ke perairan umum. Beberapa pendekatan yang diterapkan dalam
pengelolaan atau pengendalian LCPKS adalah:
- Konservasi air.
- Pengaturan penggunaan air dengan efektif (Good in-house keeping)
- Upaya menurunkan BOD dibawah batas maksimum yang ditetapkan pemerintah.
Stakeholders perkelapasawitan Indonesia dan dunia mengadakan
pertemuan yang diadakan yang dinamakan Roundtable on Sustainable Palm Oil
(RSPO). Bertujuan meminimalkan dampak dan isu negatif terhadap bisnis kelapa
sawit. Terdapat 8 prinsip dan kriteria minyak sawit yang berkelanjutan berdasar
pada kelayakan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor penyediaan bibit
berkualitas budaya kerja, dan kultur teknis. Pemerintah Indonesia harus
membenahi terlebih dahulu ketiga faktor utama tersebut, selain faktor
lingkungan dan teknologi pengolahan.
KESIMPULAN
Pembangunan agroindustri kelapa sawit
berkelanjutan sangat penting untuk diterapkan karena dapat membantu mengurangi
pemanasan global. Untuk keberlangsungannya perlu diberlakukan keharusan
penerapan berbagai sistem manajemen seperti ISO 9000, ISO 22000, HACCP, ISO
14000 dan OHSAS 18000 serta Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)
oleh berbagai pihak terkait industri kelapa sawit.
SARAN
- Seberapa besar kelapa sawit dalam menyumbang pemanasan global belum dikaji secara mendetail.
- Apakah semua perkebunan kelapa sawit melakukan hal-hal yang berdampak negatif terhadap lingkungan.
- Upaya sederhana yang bisa dilakukan oleh para pemilik perkebunan kelapa sawit yang dikelola perorangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar