ARTIKEL
PENILAIAN
DAUR HIDUP BOTOL PET (POLYETHYLENA
TEREPHTALATE)
Mohamad Yani1)*,
Endang Warsiki 2)*, dan Noviana Wulandari3)*
1) Laboratorium
Teknik dan Manajemen Lingkungan, 2,3) Laboratorium Pengemasan dan Transportasi,
Departemen Teknologi
Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian
Bogor, Kampus IPB Darmaga, Kotak Pos 220, Bogor 16680, Indonesia.
*email:
f226yani@gmail.com, moh.yani@ipb.ac.id, endangwarsiki@gmail.com,
noviana_w@yahoo.com
Bahan kemasan polyethylena
terephtalate (PET) adalah suatu resin polimer plastik termoplastis dari
kelompok poliester.PET banyak diproduksi dalam industry kimia dan digunakan
dalam serat sintetis, botol minuman dan wadah. Produk minuman teh pada awalnya
dikemas dengan menggunakan kemasan botol gelas, namun saat ini beralih
menggunakan kemasan botol PET. Kecenderungan peningkatan limbah kemasan PET
berdampak negatif terhadap permasalahan
lingkungan, dimana
sebagian besar bahan kemasan pelastik tidak dapat didaur-ulang oleh lingkungan,
sehingga perlu dilakukan suatu pengkajian mengenai jenis kemasan yang paling
baik terhadap lingkungan dengan menggunakan metoda Life Cycle Assessment
(LCA). Menurut Drive (2006), LCA adalah suatu metoda yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi dampak lingkungan yang disebabkan oleh suatu
produk selama proses
produksi atau aktivitas selama siklus hidupnya dan aliran bahan yang terjadi di
dalam proses produksi produk tersebut. Berdasarkan ISO 14040 (ISO 2006), kajian
LCA dilakukan dalam empat tahap, yaitu: penentuan tujuan dan ruang lingkup,
analisis inventori, analisis dampak, dan interpretasi.
Metodologi
Penelitian LCA
kemasan PET dilakukan pada perusahaan minuman teh di Jawa Barat dan Jawa Timur.
pabrik minuman teh, jaringan daur-ulang kemasan PET di beberapa perusahaan dan
unit usaha di Provinsi Banten, DKI, Jawa Barat dan Jawa Timur. Jenis data yang
digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data yang
digunakan meliputi: (i) proses produksi dan daurulang botol PET; (ii) kebutuhan
bahan baku dan energi; (iii) pencemaran udara (CO2, NOX, SOX dan debu); (iv)
pencemaran air (COD dan BOD); dan (v) kebutuhan biaya. Pengolahan data LCA
dilakukan dengan mengacu pada ISO 14040 dan analisis dampak lingkungan.
3. Hasil dan
Pembahasan
3.1. Tujuan dan Ruang
Lingkup
Tahap pertama studi
LCA adalah penentuan tujuan dan ruang lingkup kajian (Drive,
2006). Batasan atau ruang lingkup kajian meliputi proses produksi kemasan botol
PET, pengguna (industry minuman teh), dan pengolahan limbah
kemasan botol PET, dampak lingkungan dan analisis biaya. Menurut ISO 14040 (ISO
2006), pemilihan kategori dampak harus konsisten dengan tujuan dan ruang
lingkup penelitian, dan mencerminkan isu-isu lingkungan utama
yang berhubungan dengan sistem produk/ jasa. Ulasan dalam penelitian ini,
terbatas pada data 310 yang diperoleh dari lapangan, wawancara dan studi
pustaka, telah dibandingkan kategori dampak potensial pemanasan global (GWP),
potensial pencemaran udara, potensi eutrofikasi (EP), penggunaan energi (EN),
daur-ulang limbah PET, dan analisis biaya.
3.2. Analisis
Inventori
Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan data yang mendukung LCA, berupa kebutuhan bahan baku dan
energi, proses
produksi kemasan, dan proses daur-ulang limbah kemasan PET. Siklus hidup
kemasan botol PET, diawali dengan proses produksi kemasan botol PET, kemudian
kemasan botol PET yang telah
selesai diproduksi
digunakan untuk mengemas produk minuman teh. Produk tersebut akan disalurkan ke
konsumen melalui distributor dan konsumen akan memanfaatkan produk tersebut
sehingga dihasilkan limbah kemasan yang berpotensi mencemari lingkungan.
Pencemaran tersebut dapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat
didaur-ulang oleh lingkungan.
3.2.1. Pabrik Kemasan Botol PET
3.2.1. Pabrik Kemasan Botol PET
Secara ringkas,
kegiatan pabrik kemasan PET dalam memproduksi botol PET menggunakan bahan baku
resin PET. Pengolahan dan pembentukan botol kemasan PET dalam bentuk preform
untuk dikirimkan ke pengguna atau pabrik minuman teh. Kemasan botol PET
dibuat dengan cara blow molding (Awaja dan Pavel, 2007). Berdasarkan
pengamatan neraca masa produksi botol PET , dari sejumlah
1000g resin hanya
dihasilkan 25 buah preform hotfill. Siklus hidup kemasan botol PET
(observasi lapang) semakin banyak pula jumlah kemasan botol PET yang dapat
mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk menanggulangi
limbah kemasan botol PET. Proses penanganan limbah kemasan botol
PET dilakukan dengan melibatkan beberapa pihak, sehingga membuat siklus
hidup kemasan botol PET menjadi panjang. Siklus hidup kemasan botol PET
tersusun dari tiga kegiatan yaitu pabrik kemasan botol PET, pabrik minuman the
(pengguna), dan jaringan daur-ulang kemasan PET
3.2.2. Pabrik
Minuman Teh
Menurut Almeida et
al. (2010) untuk produk minuman di Brasil, menunjukkan bahwa pilihan
terbaik adalah botol PET. Pengamatan kemasan produk minuman teh yang populer di
Indonesia adalah
kemasan PET. Kegiatan
pabrik pengguna kemasan PET adalah mengubah botol PET bentuk sementara
(pre-form)
menjadi bentuk botol kemasan PET (dalam hal ini kemasan botol volume 600mL),
pengisian produk minuman teh (filling), pelabelan, pengemasan, dan distribusi
dan transportasi produk teh kemasan PET ke konsumen . Selanjutnya, produk
minuman tersebut dikonsumsi dan limbah kemasan botol PET dibuang atau dikumpulkan
untuk didaur-ulang.
3.2.3. Daur-ulang
PET
Kegiatan daur-ulang
limbah botol kemasan PET dimulai dari pengumpulan, pemilahan tutup botol dan
label serta disortasi berdasarkan warna, kemudian botol diolah menjadi serpihan
PET melalui tahapan
proses penggilingan,
pencucian, dan pengeringan. Temuan di lapangan, menunjukkan semua jenis plastik
dikumpulkan oleh pemulung, disortasi berdasarkan jenisnya untuk pemanfaatan
selanjutnya sebagai bahan plastik yang dapat didaur-ulang. Khusus untuk limbah
kemasan PET dilakukan pencucian dan pencacahan menjadi serpihan yang siap
dijual. Serpihan PET yang telah kering disortasi kembali dari kotoran kemudian
dikemas dan dikirim ke industri pengolahan plastik. Pengamatan di lapangan menunjukkan
bahwa, serpihan PET tidak kembali ke pabrik kemasan PET, tetapi dikirim ke industri
lain untuk diolah menjadi produk lain, atau diekspor. Pabrik kemasan botol PET
tidak memanfaatkan serpihan daur-ulang PET. Dengan demikian, siklus PET ini,
sebenarnya tidak melingkar (un-cycle).
Beberapa peneliti di
beberapa negara melaporkan bahwa penggunaan kembali serpihan PET ini hampir
mencapai 25% yang
dicampur dengan virgin PET (Vellini dan Savioli, 2009). Huang dan Ma
(2004) melakukan pendekatan analisis klaster jenis kemasan dengan menggunakan analisis
multivariate, AHP kualitatif dan metoda kuantitatif LCA dikombinasikan untuk
mengevaluasi dampak lingkungan dari bahan-kemasan. Hasil pengolahan data mendapatkan
tiga kluster, yaitu klaster 1 (PET, PE, HDPE, PP) yang lebih ramah lingkungan
dibandingkan dengan klaster 2 (card board, steel), dan klaster 3
(gelas, alumunium) yang kurang ramah lingkungan. PET ternyata termasuk jenis
kemasan yang lebih ramah lingkungan dari pada kemasan gelas atau alumunium. Vellini
dan Savioli (2009) menyatakan bahwa
produksi dan daur-ulang
kemasan gelas sangat memerlukan energi. Simulasi dengan menggunakan Bousted Model
menunjukkan bahwa produksi kemasan gelas lebih ramah lingkungan daripada PET,
jika faktor
penggunaan kembali dan daur-ulang (reuse /recycle) lebih tinggi.
Produksi kemasan gelas
menggunakan 80% reuse
dibandingkan dengan PET hanya 25% saja. Barboza et al. (2009) menyatakan
bahwa proses daur
ulang PET walaupun sulit dilakukan, bila melalui proses glikolisis dengan
katalis
propilen-glikol,
dapat mencapai 35% daur-ulang PET menjadi poliester tidak jenuh.
Grims et al. (2007)
melaporkan kemasan botol (refill) mungkin lebih efektif biaya pada
jangka lama,
namun konsumen perlu
membudayakan diri untuk menyimpan/mengembalikan botol dengan perolehan
insentif. Penggunaan
model game theory dapat mensimulasi strategi penggunaan kemasan botol
sebagai fungsi dari
harapan kooperatif dari konsumennya. Game theory ini memungkinkan investigasi
kesediaan produsen dan konsumen untuk mencari strategi yang memperhatikan
kepentingan
umum, selama tidak
merugikan kepentingan mereka sendiri. Dalam game theory untuk model
siklus hidup kemasan botol dapat disajikan kerangka kerja untuk menganalisis
pilihan antara penggunaan botol isi ulang dan sekali pakai. Meskipun botol isi
ulang mungkin lebih hemat biaya dalam jangka panjang,
pembotolan hanya
memiliki insentif untuk menggunakan botol isi ulang ketika mereka yakin bahwa
tingkat pengembalian konsumen akan cukup tinggi. Konsumen yang menyimpan atau
membuang botol isi ulang, tidak memperoleh deposit atau pengembalian insentif.
, Hal ini akan mendorong pembuangan botol PET bekas dan pembuatan botol baru
PET, sehingga akan meningkatkan biaya produksii botol PET.
Menurut Nessi et
al. (2012), di Italy, beberapa jenis kemasan PET berbagai volume, dapat
digunakan kembali (refillable) hingga 15 kali, sedangkan botol gelas
bisa mencapai 20-25 kali. Limbah PET yang dimanfaatkan kembali (recycle)
mencapai 25-80%. Pemanfaatan akhir limbah kemasan plastik, termasuk
PET dibakar dalam
insinerator untuk menghasilkan energi di Italy (Nessi et al., (2012),
Denmark
(Turconi, et al.,
2011), dan beberapa negara lainnya. Pemanfaatan limbah kemasan PET dilaporkan
mencapai 77%
daur-ulang dan 23% incinerator (Nessie et al., 2012). Pengolahan limbah
dengan teknik pembakaran pada insinerator menghasilkan energi listrik 2,46
MJ/kg PET (Pasqualino et al., 2011).
3.4. Evaluasi
Dampak Lingkungan
Cemaran lingkungan
yang terjadi selama siklus hidup kemasan PET meliputi cemaran komponen
fiskkimia (limbah udara, debu, kebisingan, limbah padat dan air limbah) dan
komponen ekonomi. Data cemaran udara dan bising pada salah satu perusahaan produksi
kemasan botol PET dapat dilihat pada
3.4.2. Komponen
Sosial dan Ekonomi
Pada tahap proses
produksi kemasan botol PET, diprakirakan dapat menciptakan kesempatan kerja
bagi masyarakat lokal
sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Walaupun peningkatan pendapatan
masyarakat melalui penyerapan atau penerimaan tenaga kerja tidak besar, namun diprakirakan
dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat dan mendorong terciptanya
peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Siklus hidup kemasan botol PET lebih
banyak melibatkan pekerja dibandingkan dengan kemasan botol gelas, hal tersebut
menyebabkan semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat akibat adanya proses
daurulang kemasan botol PET. Penanggulangan cemaran lingkungan yang terjadi
selama siklus hidup kemasan botol PET dapat dilakukan dengan cara memperpendek
siklus hidup
dari kemasan botol PET
yang dapat dilakukan dengan cara menyediakan tempat penampungan yang berfungsi
untuk menampung botol-botol PET bekas. Masyarakat dihimbau untuk tidak
menggunakan
botol PET dan botol
gelas bekas untuk penggunaan kembali pada produk lain. Penggunaan botol
kemasan PET bekas untuk
produk lain dikhawatirkan akan meninggalkan residu kotoran pada kemasan PET bekas,
sehingga akan menyulitkan pada proses daurulang. Identifikasi dampak lingkungan
kegiatan perusahaan dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.
Identifikasi dampak lingkungan perusahaan kemasan botol PET terhadap komponen sosial
dan ekonomi, tidak tersedia cukup data secara kuantitif, sehingga sulit
dilakukan pengukuran dampaknya. Kegiatan proses produksi kemasan botol PET dan proses
daur-ulang kemasan botol PET bekas, memerlukan tenaga kerja dan kesempatan berusaha
bagi masyarakat. Secara kualitatif, besarnya penyerapan tenaga kerja dan
kesempatan berusaha akan memberikan dampak positif terhadap komponen ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar