Kamis, 08 Januari 2015

artikel penilaian daur hidup botol pet



ARTIKEL
PENILAIAN DAUR HIDUP BOTOL PET (POLYETHYLENA
TEREPHTALATE)

Mohamad Yani1)*, Endang Warsiki 2)*, dan Noviana Wulandari3)*
1) Laboratorium Teknik dan Manajemen Lingkungan, 2,3) Laboratorium Pengemasan dan Transportasi,
Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Kotak Pos 220, Bogor 16680, Indonesia.
*email: f226yani@gmail.com, moh.yani@ipb.ac.id, endangwarsiki@gmail.com, noviana_w@yahoo.com

Bahan kemasan polyethylena terephtalate (PET) adalah suatu resin polimer plastik termoplastis dari kelompok poliester.PET banyak diproduksi dalam industry kimia dan digunakan dalam serat sintetis, botol minuman dan wadah. Produk minuman teh pada awalnya dikemas dengan menggunakan kemasan botol gelas, namun saat ini beralih menggunakan kemasan botol PET. Kecenderungan peningkatan limbah kemasan PET berdampak negatif terhadap permasalahan
lingkungan, dimana sebagian besar bahan kemasan pelastik tidak dapat didaur-ulang oleh lingkungan, sehingga perlu dilakukan suatu pengkajian mengenai jenis kemasan yang paling baik terhadap lingkungan dengan menggunakan metoda Life Cycle Assessment (LCA). Menurut Drive (2006), LCA adalah suatu metoda yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan yang disebabkan oleh suatu
produk selama proses produksi atau aktivitas selama siklus hidupnya dan aliran bahan yang terjadi di dalam proses produksi produk tersebut. Berdasarkan ISO 14040 (ISO 2006), kajian LCA dilakukan dalam empat tahap, yaitu: penentuan tujuan dan ruang lingkup, analisis inventori, analisis dampak, dan interpretasi.
Metodologi
Penelitian LCA kemasan PET dilakukan pada perusahaan minuman teh di Jawa Barat dan Jawa Timur. pabrik minuman teh, jaringan daur-ulang kemasan PET di beberapa perusahaan dan unit usaha di Provinsi Banten, DKI, Jawa Barat dan Jawa Timur. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data yang digunakan meliputi: (i) proses produksi dan daurulang botol PET; (ii) kebutuhan bahan baku dan energi; (iii) pencemaran udara (CO2, NOX, SOX dan debu); (iv) pencemaran air (COD dan BOD); dan (v) kebutuhan biaya. Pengolahan data LCA dilakukan dengan mengacu pada ISO 14040 dan analisis dampak lingkungan.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Tujuan dan Ruang Lingkup
Tahap pertama studi LCA adalah penentuan tujuan dan ruang lingkup kajian (Drive, 2006). Batasan atau ruang lingkup kajian meliputi proses produksi kemasan botol PET, pengguna (industry minuman teh), dan pengolahan limbah kemasan botol PET, dampak lingkungan dan analisis biaya. Menurut ISO 14040 (ISO 2006), pemilihan kategori dampak harus konsisten dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian, dan mencerminkan isu-isu lingkungan utama yang berhubungan dengan sistem produk/ jasa. Ulasan dalam penelitian ini, terbatas pada data 310 yang diperoleh dari lapangan, wawancara dan studi pustaka, telah dibandingkan kategori dampak potensial pemanasan global (GWP), potensial pencemaran udara, potensi eutrofikasi (EP), penggunaan energi (EN), daur-ulang limbah PET, dan analisis biaya.
3.2. Analisis Inventori
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data yang mendukung LCA, berupa kebutuhan bahan baku dan
energi, proses produksi kemasan, dan proses daur-ulang limbah kemasan PET. Siklus hidup kemasan botol PET, diawali dengan proses produksi kemasan botol PET, kemudian kemasan botol PET yang telah
selesai diproduksi digunakan untuk mengemas produk minuman teh. Produk tersebut akan disalurkan ke konsumen melalui distributor dan konsumen akan memanfaatkan produk tersebut sehingga dihasilkan limbah kemasan yang berpotensi mencemari lingkungan. Pencemaran tersebut dapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat didaur-ulang oleh lingkungan.
3.2.1. Pabrik Kemasan Botol PET
Secara ringkas, kegiatan pabrik kemasan PET dalam memproduksi botol PET menggunakan bahan baku resin PET. Pengolahan dan pembentukan botol kemasan PET dalam bentuk preform untuk dikirimkan ke pengguna atau pabrik minuman teh. Kemasan botol PET dibuat dengan cara blow molding (Awaja dan Pavel, 2007). Berdasarkan pengamatan neraca masa produksi botol PET , dari sejumlah
1000g resin hanya dihasilkan 25 buah preform hotfill. Siklus hidup kemasan botol PET (observasi lapang) semakin banyak pula jumlah kemasan botol PET yang dapat mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk menanggulangi limbah kemasan botol PET. Proses penanganan limbah kemasan botol PET dilakukan dengan melibatkan beberapa pihak, sehingga membuat siklus hidup kemasan botol PET menjadi panjang. Siklus hidup kemasan botol PET tersusun dari tiga kegiatan yaitu pabrik kemasan botol PET, pabrik minuman the (pengguna), dan jaringan daur-ulang kemasan PET
3.2.2. Pabrik Minuman Teh
Menurut Almeida et al. (2010) untuk produk minuman di Brasil, menunjukkan bahwa pilihan terbaik adalah botol PET. Pengamatan kemasan produk minuman teh yang populer di Indonesia adalah
kemasan PET. Kegiatan pabrik pengguna kemasan PET adalah mengubah botol PET bentuk sementara
(pre-form) menjadi bentuk botol kemasan PET (dalam hal ini kemasan botol volume 600mL), pengisian produk minuman teh (filling), pelabelan, pengemasan, dan distribusi dan transportasi produk teh kemasan PET ke konsumen . Selanjutnya, produk minuman tersebut dikonsumsi dan limbah kemasan botol PET dibuang atau dikumpulkan untuk didaur-ulang.
3.2.3. Daur-ulang PET
Kegiatan daur-ulang limbah botol kemasan PET dimulai dari pengumpulan, pemilahan tutup botol dan label serta disortasi berdasarkan warna, kemudian botol diolah menjadi serpihan PET melalui tahapan
proses penggilingan, pencucian, dan pengeringan. Temuan di lapangan, menunjukkan semua jenis plastik dikumpulkan oleh pemulung, disortasi berdasarkan jenisnya untuk pemanfaatan selanjutnya sebagai bahan plastik yang dapat didaur-ulang. Khusus untuk limbah kemasan PET dilakukan pencucian dan pencacahan menjadi serpihan yang siap dijual. Serpihan PET yang telah kering disortasi kembali dari kotoran kemudian dikemas dan dikirim ke industri pengolahan plastik. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa, serpihan PET tidak kembali ke pabrik kemasan PET, tetapi dikirim ke industri lain untuk diolah menjadi produk lain, atau diekspor. Pabrik kemasan botol PET tidak memanfaatkan serpihan daur-ulang PET. Dengan demikian, siklus PET ini, sebenarnya tidak melingkar (un-cycle).
Beberapa peneliti di beberapa negara melaporkan bahwa penggunaan kembali serpihan PET ini hampir
mencapai 25% yang dicampur dengan virgin PET (Vellini dan Savioli, 2009). Huang dan Ma (2004) melakukan pendekatan analisis klaster jenis kemasan dengan menggunakan analisis multivariate, AHP kualitatif dan metoda kuantitatif LCA dikombinasikan untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari bahan-kemasan. Hasil pengolahan data mendapatkan tiga kluster, yaitu klaster 1 (PET, PE, HDPE, PP) yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan klaster 2 (card board, steel), dan klaster 3 (gelas, alumunium) yang kurang ramah lingkungan. PET ternyata termasuk jenis kemasan yang lebih ramah lingkungan dari pada kemasan gelas atau alumunium. Vellini dan Savioli (2009) menyatakan bahwa
produksi dan daur-ulang kemasan gelas sangat memerlukan energi. Simulasi dengan menggunakan Bousted Model menunjukkan bahwa produksi kemasan gelas lebih ramah lingkungan daripada PET,
jika faktor penggunaan kembali dan daur-ulang (reuse /recycle) lebih tinggi. Produksi kemasan gelas
menggunakan 80% reuse dibandingkan dengan PET hanya 25% saja. Barboza et al. (2009) menyatakan
bahwa proses daur ulang PET walaupun sulit dilakukan, bila melalui proses glikolisis dengan katalis
propilen-glikol, dapat mencapai 35% daur-ulang PET menjadi poliester tidak jenuh.
Grims et al. (2007) melaporkan kemasan botol (refill) mungkin lebih efektif biaya pada jangka lama,
namun konsumen perlu membudayakan diri untuk menyimpan/mengembalikan botol dengan perolehan
insentif. Penggunaan model game theory dapat mensimulasi strategi penggunaan kemasan botol
sebagai fungsi dari harapan kooperatif dari konsumennya. Game theory ini memungkinkan investigasi kesediaan produsen dan konsumen untuk mencari strategi yang memperhatikan kepentingan
umum, selama tidak merugikan kepentingan mereka sendiri. Dalam game theory untuk model siklus hidup kemasan botol dapat disajikan kerangka kerja untuk menganalisis pilihan antara penggunaan botol isi ulang dan sekali pakai. Meskipun botol isi ulang mungkin lebih hemat biaya dalam jangka panjang,
pembotolan hanya memiliki insentif untuk menggunakan botol isi ulang ketika mereka yakin bahwa tingkat pengembalian konsumen akan cukup tinggi. Konsumen yang menyimpan atau membuang botol isi ulang, tidak memperoleh deposit atau pengembalian insentif. , Hal ini akan mendorong pembuangan botol PET bekas dan pembuatan botol baru PET, sehingga akan meningkatkan biaya produksii botol PET.
Menurut Nessi et al. (2012), di Italy, beberapa jenis kemasan PET berbagai volume, dapat digunakan kembali (refillable) hingga 15 kali, sedangkan botol gelas bisa mencapai 20-25 kali. Limbah PET yang dimanfaatkan kembali (recycle) mencapai 25-80%. Pemanfaatan akhir limbah kemasan plastik, termasuk
PET dibakar dalam insinerator untuk menghasilkan energi di Italy (Nessi et al., (2012), Denmark
(Turconi, et al., 2011), dan beberapa negara lainnya. Pemanfaatan limbah kemasan PET dilaporkan
mencapai 77% daur-ulang dan 23% incinerator (Nessie et al., 2012). Pengolahan limbah dengan teknik pembakaran pada insinerator menghasilkan energi listrik 2,46 MJ/kg PET (Pasqualino et al., 2011).
3.4. Evaluasi Dampak Lingkungan
Cemaran lingkungan yang terjadi selama siklus hidup kemasan PET meliputi cemaran komponen fiskkimia (limbah udara, debu, kebisingan, limbah padat dan air limbah) dan komponen ekonomi. Data cemaran udara dan bising pada salah satu perusahaan produksi kemasan botol PET dapat dilihat pada
3.4.2. Komponen Sosial dan Ekonomi
Pada tahap proses produksi kemasan botol PET, diprakirakan dapat menciptakan kesempatan kerja
bagi masyarakat lokal sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Walaupun peningkatan pendapatan masyarakat melalui penyerapan atau penerimaan tenaga kerja tidak besar, namun diprakirakan dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat dan mendorong terciptanya peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Siklus hidup kemasan botol PET lebih banyak melibatkan pekerja dibandingkan dengan kemasan botol gelas, hal tersebut menyebabkan semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat akibat adanya proses daurulang kemasan botol PET. Penanggulangan cemaran lingkungan yang terjadi selama siklus hidup kemasan botol PET dapat dilakukan dengan cara memperpendek siklus hidup
dari kemasan botol PET yang dapat dilakukan dengan cara menyediakan tempat penampungan yang berfungsi untuk menampung botol-botol PET bekas. Masyarakat dihimbau untuk tidak menggunakan
botol PET dan botol gelas bekas untuk penggunaan kembali pada produk lain. Penggunaan botol
kemasan PET bekas untuk produk lain dikhawatirkan akan meninggalkan residu kotoran pada kemasan PET bekas, sehingga akan menyulitkan pada proses daurulang. Identifikasi dampak lingkungan kegiatan perusahaan dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Identifikasi dampak lingkungan perusahaan kemasan botol PET terhadap komponen sosial dan ekonomi, tidak tersedia cukup data secara kuantitif, sehingga sulit dilakukan pengukuran dampaknya. Kegiatan proses produksi kemasan botol PET dan proses daur-ulang kemasan botol PET bekas, memerlukan tenaga kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat. Secara kualitatif, besarnya penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha akan memberikan dampak positif terhadap komponen ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar