Jurnal
Bumi Lestari, Volume 13 No. 2, Agustus 2013, hlm. 307-317
PENILAIAN DAUR
HIDUP BOTOL PET (POLYETHYLENA
TEREPHTALATE)
PADA PRODUK MINUMAN
LIFE CYCLE
ASSESSMENT (LCA) OF PET (POLYETHYLENA
TEREPHTALATE)
BOTTLES FOR DRINKING PRODUCT
Mohamad Yani1)*, Endang Warsiki
2)*, dan Noviana Wulandari3)*
1) Laboratorium Teknik dan
Manajemen Lingkungan, 2,3) Laboratorium Pengemasan dan Transportasi,
Departemen Teknologi Industri
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor, Kampus
IPB Darmaga, Kotak Pos 220, Bogor 16680, Indonesia.
*email:
f226yani@gmail.com, moh.yani@ipb.ac.id, endangwarsiki@gmail.com,
noviana_w@yahoo.com
Pendahuluan
Bertambahnya populasi
masyarakat akan meningkatkan konsumsi berbagai jenis makanan dan minuman yang
akan diikuti dengan peningkatan limbah bahan kemasan yang menyertai di
sekitarnya. Produk minuman yang dikonsumsi utama adalah air mineral, minuman
jus, teh, dan susu. Bahan kemasan
minuman relatif
memililki umur yang pendek, dimana jumlah limbah kemasan produk minuman
sebanding dengan penjualan produk minuman tersebut. Kemasan produk minuman yang
digunakan terutama plastik (PET, PP dan PE) dan gelas. Bahan kemasan polyethylena
terephtalate (PET) adalah suatu resin polimer plastik termoplastis dari
kelompok poliester.PET banyak diproduksi dalam industry kimia dan digunakan
dalam serat sintetis, botol minuman dan wadah. Produk minuman teh pada awalnya
dikemas dengan menggunakan kemasan botol gelas, namun saat ini beralih
menggunakan kemasan botol PET. Kecenderungan peningkatan limbah kemasan PET
berdampak negatif terhadap permasalahan
lingkungan, dimana
sebagian besar bahan kemasan pelastik tidak dapat didaur-ulang oleh lingkungan,
sehingga perlu dilakukan suatu pengkajian mengenai jenis kemasan yang paling
baik terhadap lingkungan dengan menggunakan metoda Life Cycle Assessment
(LCA). Menurut Drive (2006), LCA adalah suatu metoda yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi dampak lingkungan yang disebabkan oleh suatu
produk selama proses
produksi atau aktivitas selama siklus hidupnya dan aliran bahan yang terjadi di
dalam proses produksi produk tersebut. Berdasarkan ISO 14040 (ISO 2006), kajian
LCA dilakukan dalam empat tahap, yaitu: penentuan tujuan dan ruang lingkup,
analisis inventori, analisis dampak, dan interpretasi
2.
Metodologi
Penelitian LCA
kemasan PET dilakukan pada perusahaan minuman teh di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Tahapan penelitian terdiri dari pengamatan di lapangan, studi pustaka, dan
pengolahan data LCA (Gambar 3). Pengamatan lapang dilakukan terhadap pabrik
kemasan botol PET, pabrik minuman teh, jaringan daur-ulang kemasan PET di
beberapa perusahaan dan unit usaha di Provinsi Banten, DKI, Jawa Barat dan Jawa
Timur. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder. Data yang digunakan meliputi: (i) proses produksi dan daurulang
botol PET; (ii) kebutuhan bahan baku dan energi; (iii) pencemaran udara (CO2,
NOX, SOX dan debu); (iv) pencemaran air (COD dan BOD); dan (v) kebutuhan biaya.
Pengolahan data LCA dilakukan dengan mengacu pada ISO 14040 (Gambar 1) dan
analisis dampak lingkungan.
3. Hasil dan
Pembahasan
3.1. Tujuan dan
Ruang Lingkup
Tahap pertama studi
LCA adalah penentuan tujuan dan ruang lingkup kajian (Drive,
2006). Batasan atau ruang lingkup kajian meliputi proses produksi kemasan botol
PET, pengguna (industry minuman teh), dan pengolahan limbah
kemasan botol PET, dampak lingkungan dan analisis biaya. Menurut ISO 14040 (ISO
2006), pemilihan kategori dampak harus konsisten dengan tujuan dan ruang
lingkup penelitian, dan mencerminkan isu-isu lingkungan utama
yang berhubungan dengan sistem produk/ jasa. Ulasan dalam penelitian ini,
terbatas pada data 310 yang diperoleh dari lapangan, wawancara dan studi
pustaka, telah dibandingkan kategori dampak potensial pemanasan global (GWP),
potensial pencemaran udara, potensi eutrofikasi (EP), penggunaan energi (EN),
daur-ulang limbah PET, dan analisis biaya.
3.2. Analisis
Inventori
Pada tahap ini
dilakukan pengumpulan data yang mendukung LCA, berupa kebutuhan bahan baku dan
energi, proses
produksi kemasan, dan proses daur-ulang limbah kemasan PET. Siklus hidup
kemasan botol PET, diawali dengan proses produksi kemasan botol PET, kemudian
kemasan botol PET yang telah
selesai diproduksi
digunakan untuk mengemas produk minuman teh. Produk tersebut akan disalurkan ke
konsumen melalui distributor dan konsumen akan memanfaatkan produk tersebut
sehingga dihasilkan limbah kemasan yang berpotensi mencemari lingkungan. Pencemaran
tersebut dapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat didaur-ulang oleh
lingkungan
3.2.1. Pabrik
Kemasan Botol PET
Secara ringkas,
kegiatan pabrik kemasan PET dalam memproduksi botol PET menggunakan bahan baku
resin PET. Pengolahan dan pembentukan botol kemasan PET dalam bentuk preform
untuk dikirimkan ke pengguna atau pabrik minuman teh. Kemasan botol PET
dibuat dengan cara blow molding (Awaja dan Pavel, 2007). Berdasarkan
pengamatan neraca masa produksi botol PET (Gambar 5), dari sejumlah
1000g resin hanya
dihasilkan 25 buah preform hotfill Gambar 4. Siklus hidup kemasan botol
PET (observasi lapang) semakin banyak pula jumlah kemasan botol PET yang
dapat mencemari lingkungan, sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk
menanggulangi limbah kemasan botol PET. Proses penanganan limbah kemasan
botol PET dilakukan dengan melibatkan beberapa pihak, sehingga membuat
siklus hidup kemasan botol PET menjadi panjang. Siklus hidup kemasan
botol PET tersusun dari tiga kegiatan yaitu pabrik kemasan botol PET, pabrik
minuman the (pengguna), dan jaringan daur-ulang kemasan PET
3.2.2. Pabrik
Minuman Teh
Menurut Almeida et
al. (2010) untuk produk minuman di Brasil, menunjukkan bahwa pilihan
terbaik adalah botol PET. Pengamatan kemasan produk minuman teh yang populer di
Indonesia adalah
kemasan PET. Kegiatan
pabrik pengguna kemasan PET adalah mengubah botol PET bentuk sementara
(pre-form)
menjadi bentuk botol kemasan PET (dalam hal ini kemasan botol volume 600mL),
pengisian produk minuman teh (filling), pelabelan, pengemasan, dan distribusi
dan transportasi produk teh kemasan PET ke konsumen . Selanjutnya, produk
minuman tersebut dikonsumsi dan limbah kemasan botol PET dibuang atau dikumpulkan
untuk didaur-ulang.
3.2.3.
Daur-ulang PET
Kegiatan daur-ulang
limbah botol kemasan PET dimulai dari pengumpulan, pemilahan tutup botol dan
label serta disortasi berdasarkan warna, kemudian botol diolah menjadi serpihan
PET melalui tahapan
proses penggilingan,
pencucian, dan pengeringan. Temuan di lapangan, menunjukkan semua jenis plastik
dikumpulkan oleh pemulung, disortasi berdasarkan jenisnya untuk pemanfaatan
selanjutnya sebagai bahan plastik yang dapat didaur-ulang. Khusus untuk limbah
kemasan PET dilakukan pencucian dan pencacahan menjadi serpihan yang siap dijual.
Serpihan PET yang telah kering disortasi kembali dari kotoran kemudian dikemas
dan dikirim ke industri pengolahan plastik. Pengamatan di lapangan menunjukkan
bahwa, serpihan PET tidak kembali ke pabrik kemasan PET, tetapi dikirim ke industri
lain untuk diolah menjadi produk lain, atau diekspor. Pabrik kemasan botol PET
tidak memanfaatkan serpihan daur-ulang PET. Dengan demikian, siklus PET ini,
sebenarnya tidak melingkar (un-cycle).
Beberapa peneliti di
beberapa negara melaporkan bahwa penggunaan kembali serpihan PET ini hampir
mencapai 25% yang
dicampur dengan virgin PET (Vellini dan Savioli, 2009). Huang dan Ma
(2004) melakukan pendekatan analisis klaster jenis kemasan dengan menggunakan analisis
multivariate, AHP kualitatif dan metoda kuantitatif LCA dikombinasikan untuk
mengevaluasi dampak lingkungan dari bahan-kemasan. Hasil pengolahan data mendapatkan
tiga kluster, yaitu klaster 1 (PET, PE, HDPE, PP) yang lebih ramah lingkungan
dibandingkan dengan klaster 2 (card board, steel), dan klaster 3
(gelas, alumunium) yang kurang ramah lingkungan. PET ternyata termasuk jenis
kemasan yang lebih ramah lingkungan dari pada kemasan gelas atau alumunium. Vellini
dan Savioli (2009) menyatakan bahwa
produksi dan daur-ulang
kemasan gelas sangat memerlukan energi. Simulasi dengan menggunakan Bousted Model
menunjukkan bahwa produksi kemasan gelas lebih ramah lingkungan daripada PET,
jika faktor
penggunaan kembali dan daur-ulang (reuse /recycle) lebih tinggi.
Produksi kemasan gelas
menggunakan 80% reuse
dibandingkan dengan PET hanya 25% saja. Barboza et al. (2009) menyatakan
bahwa proses daur
ulang PET walaupun sulit dilakukan, bila melalui proses glikolisis dengan
katalis
propilen-glikol,
dapat mencapai 35% daur-ulang PET menjadi poliester tidak jenuh.
Grims et al. (2007)
melaporkan kemasan botol (refill) mungkin lebih efektif biaya pada
jangka lama,
namun konsumen perlu
membudayakan diri untuk menyimpan/mengembalikan botol dengan perolehan
insentif. Penggunaan
model game theory dapat mensimulasi strategi penggunaan kemasan botol
sebagai fungsi dari
harapan kooperatif dari konsumennya. Game theory ini memungkinkan investigasi
kesediaan produsen dan konsumen untuk mencari strategi yang memperhatikan
kepentingan
umum, selama tidak
merugikan kepentingan mereka sendiri. Dalam game theory untuk model
siklus hidup kemasan botol dapat disajikan kerangka kerja untuk menganalisis
pilihan antara penggunaan botol isi ulang dan sekali pakai. Meskipun botol isi
ulang mungkin lebih hemat biaya dalam jangka panjang,
pembotolan hanya
memiliki insentif untuk menggunakan botol isi ulang ketika mereka yakin bahwa
tingkat pengembalian konsumen akan cukup tinggi. Konsumen yang menyimpan atau
membuang botol isi ulang, tidak memperoleh deposit atau pengembalian insentif.
, Hal ini akan mendorong pembuangan botol PET bekas dan pembuatan botol baru
PET, sehingga akan meningkatkan biaya produksii botol PET.
Menurut Nessi et
al. (2012), di Italy, beberapa jenis kemasan PET berbagai volume, dapat
digunakan kembali (refillable) hingga 15 kali, sedangkan botol gelas
bisa mencapai 20-25 kali. Limbah PET yang dimanfaatkan kembali (recycle)
mencapai 25-80%. Pemanfaatan akhir limbah kemasan plastik, termasuk
PET dibakar dalam
insinerator untuk menghasilkan energi di Italy (Nessi et al., (2012),
Denmark
(Turconi, et al.,
2011), dan beberapa negara lainnya. Pemanfaatan limbah kemasan PET dilaporkan
mencapai 77%
daur-ulang dan 23% incinerator (Nessie et al., 2012). Pengolahan limbah
dengan teknik pembakaran pada insinerator menghasilkan energi listrik 2,46
MJ/kg PET (Pasqualino et al., 2011).
3.4. Evaluasi
Dampak Lingkungan
Cemaran lingkungan
yang terjadi selama siklus hidup kemasan PET meliputi cemaran komponen
fiskkimia (limbah udara, debu, kebisingan, limbah padat dan air limbah) dan
komponen ekonomi. Data cemaran udara dan bising pada salah satu perusahaan produksi
kemasan botol PET dapat dilihat pada
3.4.1. Komponen
Fisik Kimia
Pada proses produksi
kemasan botol PET, limbah yang dihasilkan dikelompokkan menjadi empat jenis,
yaitu limbah padat, gas, debu, dan kebisingan. Pada proses produksi botol PET,
dihasilkan debu
akibat adanya pergerakan
kendaraan pengangkut bahan baku, alat transportasi, dan penggunaan mesin
produksi. Cemaran
udara yang dihasilkan pada proses produksi kemasan botol PET berasal dari
emisi mesin produksi
dan kendaraan bermotor. Komponen pencemaran udara menunjukkan kualitas udara di
dalam ruang produksi masih jauh di bawah baku mutu lingkungan (BML), meskipun
perusahaan telah meningkatkan kapasitas produksinya saat ini. Partikel debu
dalam ruangan dihasilkan dari berbagai kegiatan pabrikasi, terutama operasional
mesin dan transportasi. Pencegahan penyebaran partikel debu dapat dilakukan
pencegahan mulai dari sumber pencemar, sebelum tersebar ke dalam ruangan atau lingkungan
luar. Secara umum peralatan pengelolaan debu terdiri dari settling chambers,
inertial separators, impingement separators, wet scrubbers, fabric filters, dan
electrostatic precipitator (Corbitt, 2004). Sistem pengolahan debu
dalam ruang, yang dilakukan perusahaan adalah menggunakan exhause fan.
Penggunaan exhause fan bertujuan untuk mengalirkan udara
dalam ruangan ke luar ruangan, dimana cemaran gas, panas dan debu-debu
halus yang terdapat dalam ruangan, akan terhisap dan terdorong ke
udara bebas. Perusahaan kemasan botol PET melakukan pengelolaan
lingkungan dengan cara penanaman pohon pelindung dan penghijauan di
halaman dan sekeliling pabrik,
sehingga diharapkan
cemaran gas dan debu dapat diserap oleh tanaman tersebut. Selain penggunaan
exhause fan, sebaiknya pengelolaan debu menggunakan
peralatan seperti di atas untuk mengolah debu tersebut, sehingga tidak
mencemari lingkungan atau menurunkan kesehatan pekerja dan masyarakat. Mesin
atau peralatan yang digunakan pada proses produksi kemasan botol PET
menghasilkan kebisingan. Tingkat kebisingan yang dihasilkan pada proses
produksi kemasan botol PET pada tahun 2008 menjadi 85,4 dBA , hingga telah
melebihi baku mutu lingkungan kerja. Peningkatan limbah kebisingan dapat
terjadi akibat meningkatnya kapasitas produksi dan menurunnya kondisi mesin. Upaya
pengelolaan kebisingan yang dilakukan dengan cara perbaikan dan perawatan mesin
produksi. Pengelolaan terhadap gangguan kebisingan di luar pabrik yang berasal
dari lalulintas kendaraan dan barang dilakukan dengan cara penanaman pohon
pelindung dan penghijauan di sekitar pabrik. Limbah padat yang dihasilkan pada
proses produksi kemasan botol PET berupa botol dan preform yang tidak
memenuhi standar. Limbah padat tersebut tidak mendapatkan penanganan khusus melainkan
dijual kepada industri olahan plastik. Limbah kemasan PET ini dikumpulkan dan
didaurulang di luar perusahaan. Pada proses produksi kemasan botol PET hampir
tidak menggunakan air. Limbah cair yang dihasilkan pada proses produksi kemasan
botol PET dihasilkan dari kegiatan MCK (mandi cuci kakus), sehingga tidak tidak
berbahaya bagi lingkungan. Pada proses produksi kemasan botol gelas, limbah cair
berasal dari proses pencucian cullet dan pendinginan mesin produksi.
Nilai COD dan BOD yang dikandung oleh suatu limbah cair dari proses kemasan
botol gelas dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi pada saluran air (Malik,
2004). Kegiatan produksi kemasan PET, melibatkan penggunaan energi baik listrik
maupun bahan bakar
kendaraan, yang dapat
menimbulkan emisi CO2. Dampak lingkungan yang dihasilkan pada proses
produksi kemasan botol
PET, menunjukkan bahwa pemanasan global, penipisan lapisan ozon, dan hujan asam
yang diakibatkan dari proses produksi botol PET jauh lebih rendah dibandingkan dengan
botol gelas. Hal ini dikarena pada proses produksi kemasan gelas memerlukan
energi yang lebih besar dibandingkan dengan kemasan botol PET, maka dampak
lingkungan yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan kemasan botol PET.
Madival et al. (2009) menyatakan bahwa pada produksi PET
dan PS (poli-stirena)
dari minyak bumi ternyata kurang ramah lingkungan dibandingkan dengan PLA
(poly-lactic acid).
Pada tahap transportasi dari bahan kemasan plastik (PLA -poly-lactic acid, PS-
poli
stirena, dan PET) memberikan
kontribusi pada global warming, penipisan lapisan ozon, serta pencemaran air.
3.4.2. Komponen
Sosial dan Ekonomi
Pada tahap proses
produksi kemasan botol PET, diprakirakan dapat menciptakan kesempatan kerja
bagi masyarakat lokal
sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Walaupun peningkatan pendapatan
masyarakat melalui penyerapan atau penerimaan tenaga kerja tidak besar, namun diprakirakan
dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat dan mendorong terciptanya peluang
usaha bagi masyarakat sekitar. Siklus hidup kemasan botol PET lebih banyak
melibatkan pekerja dibandingkan dengan kemasan botol gelas, hal tersebut menyebabkan
semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat akibat adanya proses daurulang
kemasan botol PET. Penanggulangan cemaran lingkungan yang terjadi selama siklus
hidup kemasan botol PET dapat dilakukan dengan cara memperpendek siklus hidup
dari kemasan botol PET
yang dapat dilakukan dengan cara menyediakan tempat penampungan yang berfungsi
untuk menampung botol-botol PET bekas. Masyarakat dihimbau untuk tidak
menggunakan
botol PET dan botol
gelas bekas untuk penggunaan kembali pada produk lain. Penggunaan botol
kemasan PET bekas untuk
produk lain dikhawatirkan akan meninggalkan residu kotoran pada kemasan PET bekas,
sehingga akan menyulitkan pada proses daurulang. Identifikasi dampak lingkungan
kegiatan perusahaan dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.
Identifikasi dampak lingkungan perusahaan kemasan botol PET terhadap komponen sosial
dan ekonomi, tidak tersedia cukup data secara kuantitif, sehingga sulit
dilakukan pengukuran dampaknya. Kegiatan proses produksi kemasan botol PET dan proses
daur-ulang kemasan botol PET bekas, memerlukan tenaga kerja dan kesempatan berusaha
bagi masyarakat. Secara kualitatif, besarnya penyerapan tenaga kerja dan
kesempatan berusaha akan memberikan dampak positif terhadap komponen ekonomi.
3.5. Biaya
Produksi
Pada siklus hidup
kemasan membutuhkan biaya, baik untuk membeli bahan baku maupun energy yang
digunakan untuk mendukung proses produksi. Dampak lingkungan global dari proses
produksi kemasan
botol PET dan gelas Dampak Lingkungan Botol PET Botol gelas (unit) Pemanasan
Global 175 851 (GWP 100) (kg CO2 eq.) Penipisan Lapisan Ozon 0,000006 0,000011 (kg
CFC-11 eq.)
Hujan Asam (k mol H- eq.)
0,03 0,15 Eutrofikasi (kg O2 eq.) 8,1 18,7
Sumber: Malik (2004)
Biaya yang dibutuhkan
selama siklus hidup kemasan botol PET
Parameter Nilai
(Rp/botol)
Kebutuhan bahan baku
28 g/botol
Biaya Bahan Baku dan
transportasi bahan baku 340 – 403
Harga Jual kemasan
900 – 950
Ø Biaya
transportasi 20
Ø Energi pada proses produksi 50
(Rp/kg)
Biaya
produksi produksi kemasan (bahan baku, energi, dan transportasi) 410 – 473
Harga
Jual Limbah Botol 3000
Harga
jual hasil disortasi 4000
Ø Biaya
transportasi 200
Harga
jual hasil penggilingan & pencucian
6000
Ø Biaya
penggilingan
100
Ø Biaya
Pengeringan 100
Ø Biaya
transportasi
100
Harga
jual hasil sortasi (export) 6900
Ø Biaya transportasi 100
dan transportasi.
Biaya yang dibutuhkan selama siklus hidup kemasan botol PET dapat dilihat
padaTabel 4. Harga resin PET yaitu sebesar Rp.12150 – Rp.14400/kg, jauh lebih
mahal dibandingkan bahan baku botol gelas sebesar Rp. 2267/kg. Kebutuhan bahan
baku yang digunakan untuk membuat satu
buah kemasan, pada
proses produksi kemasan botol PET membutuhkan bahan baku sebanyak 28 g/unit
dengan biaya sebesar
Rp.340 – Rp.403/unit sedangkan pada proses produksi kemasan botol
gelas membutuhkan
bahan baku sebanyak 300 g/ unit dengan biaya sebesar Rp. 680/unit. Kebutuhan energi
(Tabel 1) dan biaya energy (Tabel 5) yang digunakan untuk produksi kemasan botol
gelas jauh lebih besar dibandingkan dengan kemasan botol PET, hal ini
dikarenakan perberbedaan sifat dari bahan baku. Pada proses produksi satu kemasan
botol gelas membutuhkan biaya produksi sebesar Rp.1700/unit sedangkan untuk
membuat satu kemasan botol PET biaya yang dibutuhkan hanya sebesar Rp. 410 –473/unit.
Bila dilihat dari biaya bahan baku, energi dan transportasi yang dibutuhkan pada
proses produksi kemasan botol PET lebih ekonomis dari pada kemasan gelas. Harga
jual kemasan botol gelas jauh lebih mahal dibandingkan botol PET, yaitu sebesar
Rp. 2000/unit sedangkan botol PET sebesar Rp. 900 – 950/unit. Pada proses penanganan
limbah kemasan, biaya yang dibutuhkan untuk menangani limbah kemasan botol PET
jauh lebih besar dibandingkan botol gelas, hal ini dikarenakan banyaknya
tahapan yang dibutuhkan untuk menangani limbah botol PET. Tetapi harga jual
limbah kemasan botol PET jauh lebih tinggi dibandingkan kemasan botol gelas,
yaitu sebesar Rp. 3000/kg sedangkan limbah botol gelas sebesar Rp.1000/kg, hal
tersebut dikarenakan kualitas limbah kemasan botol PET lebih baik dibandingkan botol
gelas.
4. Simpulan dan
Saran
Berdasarkan materi di
atas dapat di simpulkan Siklus hidup kemasan botol PET di Indonesia terdiri
atas tiga kelompok yaitu : produsen kemasan
botol PET, pabrik
pengguna kemasan (perusahan minuman teh), jaringan daur-ulang kemasan botol
PET untuk bahan baku
industri plastik lain. Kondisi saat ini, ketiga kelompok tersebut bersifat
searah dan belum menjadi siklus yang utuh. Berdasarkan analisis inventori
siklus hidup PET, dalam pembuatan
botol PET untuk
minuman teh 600mL, diperlukan resin PET adalah 28g/botol, energi untuk proses
produksi dan transportasi. Produksi kemasan PET menghasilkan produk cacat.
Proses daur-ulang limbah PET menjadi serpihan dengan harga jual yang cukup
tinggi dibandingkan gelas. Serpihan ini
belum didaur-ulang
menjadi bahan pencampur produksi kemasan botol PET, tetapi dimanfaatkan untuk
produk plastik atau dibakar sebagai bahan bakar Analsis dampak lingkungan dari
siklus produksi kemasan PET menghasilkan cemaran udara, kebisingan dan air
limbah yang masih baik. Secara umum, kegiatan tersebut berdampak negatif,
tetapi tidak membahayakan lingkungan. Kegiatan siklus kemasan PET berpotensi
menimbulkan pemanasan global, penipisan lapisan ozon, dan hujan asam. Analisis
biaya produksi berkaitan dengan penggunaan jumlah bahan baku dan energi,
sehingga menentuan harga jual produk. Harga jual kemasan botol PET adalah
setengah dari harga jual botol gelas, sedangkan harga jual limbah serpihan PET
tiga kali lebih tinggi dari pada pecahan gelas. Kemasan PET lebih praktis,
murah dan hemat tetapi sulit didaur-ulang, sehingga kurang ramah lingkungan.
Beberapa data penelitian Life Cycle Assessment (LCA) kemasan botol PET
masih secara kualitatif, khususnya analisis dampak lingkungan. Kajian analisis
dampak lingkungan fisik, kimia, biologi dan sosial-ekonomi perlu dilakukan
untuk melihat lebih jauh dampak lingkungan dari LCA kemasan botol PET.
Daftar Pustaka
Almeida, C.M.V.B., Rodrigues,
A.J.M., Bonilla, S.H., and Giannetti B.F. 2010. “ Emergy as a tool for
Ecodesign:
evaluating materials selection
for beverage packages in Brazil”. Journal of Cleaner Production 18.
32-43.
Arvanitoyannis, I.S. 2008. ISO
14040: Life Cycle Assessment (LCA) – Principles and Guidelines. Chap 3.
In Waste Management for the Food
Industries. Elsevier Inc.
Awaja, F. and Pavel, D., 2005.
“Injection stretch blow moulding process of reactive extruded recycled PET
and virgin PET blends”. European
Polymer Journal 41 (11). 2614-2634.
Barboza, E.S., Lopez, D.R.,
Amico, S.C., and Ferreira, C.A. 2009. “Determination of a recyclability index
for
the PET glycolysis”. Resources,
Conservation and Recycling 53. 122–128.
Baumann, H. and Tillman, A.M.
2002. The Hitchhiker’s Guide to LCA. Chalmers University of Technology,
Goteborg, Sweden.
Corbitt, R.A. 2004. Standard
Handbook Of Environmental Engineering. http://
www.digitalengineeringlibrary.com.
The McGraw-Hill
Companies. diakses tanggal 30 Mei 2011.
Drive, R.B., 2006. Life Cycle
Assessment: Principles and Practice. National Risk Management Research
Laboratory Office of Research and
Development U.S Environmental Protection Agency, Ohio.
Grimes, H.G., Seager, T.P, Theis,
T.L., and Powers, S.E. 2007. “A game theory framework for cooperative
management of refillable and
disposable bottle lifecycles”. Journal of Cleaner Production 15. 1618-
1627. Huang, C.C., and Ma, H.W.
2004. “A multi-dimensional environmental evaluation of packaging
materials”. Science of the
Total Environment 324. 161–172.
ISO 14040. 2006. Environmental
Management - Life Cycle Assessment- Principle and Framework.
International Organisation for
Standardisation (ISO), Geneva, Switzerland.
Kep.Menaker. 1997. Surat
Edaran Menaker No. 1 tahun 1997 Tentang Baku Mutu Lingkungan Kerja.
Kementrian Tenaga Kerja
Indonesia, Jakarta.
Kep.Menaker. 1999. Keputusan
Menteri Tenaga Kerja No. 51 Tahun 1999 Tentang Baku Mutu Kebisingan.
Kementrian Tenaga Kerja
Indonesia, Jakarta.
Madival, S., Auras, R., Singh,
S.P., and Narayan, R. 2009. “Assessment of the environmental profile of PLA,
PET and PS clamshell containers
using LCA methodology”. Journal of Cleaner Production 17.
1183–1194.
Malik, A.B. 2004. Comparative
LCA soft drink containers and their respective waste management system
in Hungary and Mexico. PhD thesis at Graduate Program
at University of Miskolc, Hungary.
Neri, P., Olivieri, G., and
Falconi, F. 2007. Life Cycle Assessment for the preparation of an
Environmental
Product Declaration (EPD) of
Cerelia natural mineral water packaged in PET bottle 1.5l and
Glass bottle 1l, LCA-lab SRL, doc. RT.02_Rev.02, 1 Giugno
(pp.1-67), Bologna.
Nessi, S., Rigamonti, L., and
Grosso, M. 2012. “LCA of waste prevention activities: A case study for drinking
water in Italy”. Journal of
Environmental Management 108. 73-83.
Pasqualino, J., Meneses, M., and
Castells, F. 2011. “The carbon footprint and energy consumption of
beverage packaging selection and
disposal”. Journal of Food Engineering 103. 357–365.
Turconi, R., Butera, S., Boldrin,
A., Grosso, M., Rigamonti, L., and Astrup, T. 2011. “Life cycle assessment of
waste incineration in Denmark and
Italy using two different LCA models”. Waste Manag. Res. 29 (10).
78-90.
Vellini, M. and Savioli, M. 2009.
“ Energy and environmental analysis of glass container production and
recycling”. Energy
34. 2137–2143.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar