PENDAHULUAN
Masalah
pencemaran udara dikota-kota
besar, sangat dipengaruhi dan berbeda
oleh berbagai faktor yaitu: tofografi, kependudukan, iklim dan cuaca serta
tingkat atau angka perkembangan sosio
ekonomi dan industrialisasi. Masalah-masalah ini akan
meningkat keadaannya, jika jumlah penduduk perkotaan semakin meningkat yang
mengakibatkan jumlah penduduk yang terpapar polusi udara juga meningkat
Polusi udara perkotaan diperkirakan
memberi kontribusi bagi 800.000 kematian tiap tahun (WHO/UNEP). Saat ini banyak
negara berkembang menghadapi masalah polusi udara yang jauh lebih serius
dibandingkan negara maju. Contoh klasik pengaruh polusi udara terhadap
kesehatan dapat dilihat pada kota-kota di negara maju seperti Meuse Valley,
Belgia tahun 1930; Donora, Pennsylvania tahun 1948; dan London, Inggris tahun
1952; di mana terjadi peningkatan angka kematian (mortalitas) dan kesakitan
(morbiditas) akibat polusi udara yang berakibat pada penurunan produktivitas
dan peningkatan pembiayaan kesehatan. Oleh sebab itu polusi udara juga
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting.
Di Indonesia, kendaraan bermotor
merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Menurut World Bank, dalam
kurun waktu 6 tahun sejak 1995 hingga 2001 terdapat pertumbuhan jumlah
kendaraan bermotor di Indonesia sebesar hampir 100%. Sebagian besar kendaraan
bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan
yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang
baik (misal: kadar timbal/Pb yang tinggi) . World Bank juga menempatkan Jakarta
menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah
Beijing, New Delhi dan Mexico City. Polusi udara yang terjadi sangat berpotensi
menggangu kesehatan. Menurut perhitungan kasar dari World Bank tahun 1994
dengan mengambil contoh kasus kota Jakarta, jika konsentrasi partikulat (PM)
dapat diturunkan sesuai standar WHO, diperkirakan akan terjadi penurunan tiap
tahunnya: 1400 kasus kematian bayi prematur; 2000 kasus rawat di RS,
49.000 kunjungan ke gawat darurat; 600.000 serangan asma; 124.000 kasus
bronchitis pada anak; 31 juta gejala penyakit saluran pernapasan serta
peningkatan efisiensi 7.6 juta hari kerja yang hilang akibat penyakit saluran
pernapasan – suatu jumlah yang sangat signifikan dari sudut pandang kesehatan
masyarakat. Dari sisi ekonomi pembiayaan kesehatan (health cost) akibat polusi
udara di Jakarta diperkirakan mencapai hampir 220 juta dolar pada tahun 1999.
2)
TUJUAN
- Menganalisis polusi udara di perkotaan
- Memenuhi tugas bahasa Indonesia
BAB II
PEMABAHSAN
1)
Pengertian polusi udara
Polusi adalah sejenis gas yang dapat
membahayakan yang berasal atau dihasilkan oleh asap-asap baik dari asap
kendaraan bermotor maupun asap-asap sisa pembakaran dari pabrik-pabrik tertentu
atau sejenis yang lainnya yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Jarang
sekali kita temui keadaan dijalan yang bersih tanpa adanya polusi dari asap
kendaraan bermotor. Polusi juga dapat menimbulkan penyakit, karena didalam
polusi itu terkandung virus-virus penyakit yang dapat membahayakan kesehatan
kita. Banyak warga yang mengeluh akibat adanya polusi, sampai sekarangpun belum
ada cara yang ampuh untuk menangani polusi, karena semakin hari semakin banyak
orang yang mengendarai kendaraan berotor sehingga makbanyak pula asap-asap yang
dihasilkan dan hal itu akan menyebabkan polusi udara.
Tabel1. Standar polutan udara
menurut EPA
|
Pollutan
Waktu
|
|
PM10
(μg/m3)
150
(/24jam)
50 (/tahun)
PM2,5 (μg/m3)
65 (/24
jam)
15 (/tahun)
Ozone
(ppm)
0.12
(/1jam)
0.08 (/8 jam)
NO2
(ppm)
0.053 (/tahun)
SO2
(ppm)
0.14 (/24 jam)
0.03
(/tahun)
|
a) Efek Negatif
Pencemaran Udara Bagi Kesehatan Tubuh
Tabel 2 menjelaskan tentang pengaruh
pencemaran udara terhadap makhluk hidup. Rentang nilai menunjukkan batasan
kategori daerah sesuai tingkat kesehatan untuk dihuni oleh manusia. Karbon
monoksida, nitrogen, ozon, sulfur dioksida dan partikulat matter adalah
beberapa parameter polusi udara yang dominan dihasilkan oleh sumber pencemar.
Dari pantauan lain diketahui bahwa dari beberapa kota yang diketahui masuk
dalam kategori tidak sehat berdasarkan ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara)
adalah Jakarta (26 titik), Semarang (1 titik), Surabaya (3 titik), Bandung (1
titik), Medan (6 titik), Pontianak (16 titik), Palangkaraya (4 titik), dan
Pekan Baru (14 titik). Satu lokasi di Jakarta yang diketahui merupakan daerah
kategori sangat tidak sehat berdasarkan pantauan lapangan
Tabel 2. Pengaruh Indeks Standar
Pencemar Udara (ISPU)
|
Kategori
|
Rentang
|
Karbon monoksida (CO)
|
Nitrogen (NO2)
|
Ozon (O3)
|
Sulfur dioksida (SO2)
|
Partikulat
|
|
Baik
|
0-50
|
Tidak
ada efek
|
Sedikit berbau
|
Luka pada Beberapa spesies
tumbuhan akibat kombinasi dengan SO2 (Selama 4 Jam)
|
Luka pada Beberapa spesies
tumbuhan akibat kombinasi dengan O3 (Selama 4 Jam)
|
Tidak ada efek
|
|
Sedang
|
51– 100
|
Perubahan kimia
Darah
Tapi
tidak terdeteksi
|
Berbau
|
Lukaada Beberapa spesies tumbuhan
|
Luka pada Beberapa spesies
tumbuhan
|
Terjadi penurunan pada
jarak pandang
|
|
Tidak Sehat
|
101– 199
|
Peningkatan pada
kardiovaskularpada perokok yang sakit jantung
|
Baudan kehilangan warna.
Peningkatan reaktivitas pembuluh tenggorokan pada penderita asma
|
Penurunan kemampuan pada atlit
yang berlatih keras
|
Bau, Meningkatnya kerusakan
tanaman
|
Jarak pandang turun dan terjadi
pengotoran debu di mana-mana
|
|
Sangat Tidak Sehat
|
200-299
|
Meningkatnya kardiovaskular pada
orang bukan perokok
yang berpenyakit Jantung, dan akan
tampak beberapa kelemahan
yang
terlihat
secara nyata
|
Meningkatnya sensitivitas pasien
yang berpenyakit asma dan bronchitis
|
Olah
Raga
ringan mengakibatkan
pengaruh parnafasan pada
paien
yang berpenyaklt paru-paru kronis
|
Meningkatnya sensitivitas pada
pasien berpenyakit asma dan bronchitis
|
Meningkatnya sensitivitas pada
pasien berpenyakit asma dan bronchitis
|
|
Berbahaya
|
300 – lebih
|
Tingkat yang berbahaya bagi semua
populasi yang terpapar
|
||||
Tabel 3. Sumber dan Standar
Kesehatan Emisi Gas Buang
|
Pencemar
|
Sumber
|
Keterangan
|
|
Karbon monoksida (CO)
|
Buangan kendaraan bermotor;
beberapa proses industri
|
Standar kesehatan: 10 mg/m3 (9
ppm)
|
|
Sulfur dioksida (S02)
|
Panas dan fasilitas pembangkit
listrik
|
Standar kesehatan: 80 ug/m3 (0.03
ppm)
|
|
Partikulat Matter
|
Buangan kendaraan bermotor;
beberapa proses industri
|
Standar kesehatan: 50 ug/m3 selama
1 tahun; 150 ug/m3
|
|
Nitrogen dioksida (N02)
|
Buangan kendaraan bermotor; panas
dan fasilitas
|
Standar kesehatan: 100 pg/m3 (0.05
ppm) selama 1 jam
|
|
Ozon (03)
|
Terbentuk di atmosfir
|
Standar kesehatan: 235 ug/m3 (0.12
ppm) selama 1 jam
|
b) Mekanisme terjadinya
gangguan kesehatan akibat polusi udara secara umum
Efek yang ditimbulkan oleh polutan
tergantung dari besarnya pajanan (terkait dosis/kadarnya di udara dan
lama/waktu pajanan) dan juga faktor kerentanan host (individu) yang
bersangkutan (misal: efek buruk lebih mudah terjadi pada anak, individu
pengidap penyakit jantung-pembuluh darah dan pernapasan, serta penderita
diabetes melitus). Pajanan polutan udara dapat mengenai bagian tubuh
manapun, dan tidak terbatas pada inhalasi ke saluran pernapasan saja. Sebagai
contoh, pengaruh polutan udara juga dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan
mata. Namun demikian, sebagian besar penelitian polusi udara terfokus pada efek
akibat inhalasi/terhirup melalui saluran pernapasan mengingat saluran napas
merupakan pintu utama masuknya polutan udara kedalam tubuh. Selain faktor zat
aktif yang dibawa oleh polutan tersebut, ukuran polutan juga menentukan lokasi
anatomis terjadinya deposit polutan dan juga efeknya terhadap jaringan sekitar.
Fine PM (<1 μm) dapat dengan mudah terserap masuk ke pembuluh darah
sistemik.
Berikut ini beberapa mekanisme
biologis bagaimana polutan udara mencetuskan gejala penyakit:
- Timbulnya reaksi radang/inflamasi pada paru, misalnya akibat PM atau ozon.
- Terbentuknya radikal bebas/stres oksidatif, misalnya PAH(polyaromatic hydrocarbons).
- Modifikasi ikatan kovalen terhadap protein penting intraselular seperti enzim-enzim yang bekerja dalam tubuh.
- Komponen biologis yang menginduksi inflamasi/peradangan dan gangguan system imunitas tubuh, misalnya golongan glukan dan endotoksin.
- Stimulasi sistem saraf otonom dan nosioreseptor yang mengatur kerja jantung dan saluran napas.
- Efek adjuvant (tidak secara langsung mengaktifkan sistem imun) terhadap sistem imunitas tubuh, misalnya logam golongan transisi dan DEP/diesel exhaust particulate.
- Efek procoagulant yang dapat menggangu sirkulasi darah dan memudahkan penyebaran polutan ke seluruh tubuh, misalnya ultrafine PM.
- Menurunkan sistem pertahanan tubuh normal (misal: dengan menekan fungsi alveolar makrofag pada paru).
c) Pengaruh polusi udara
terhadap kesehatan jangka pendek dan jangka panjang
v jangka pendek
|
- Perawatan di rumah sakit,
kunjungan ke Unit Gawat Darurat atau kunjungan rutin dokter, akibat penyakit
yang terkait dengan respirasi (pernapasan) dan kardiovaskular.
- Berkurangnya aktivitas harian
akibat sakit
- Jumlah absensi (pekerjaan
ataupun sekolah)
- Gejala akut (batuk, sesak,
infeksi saluran pernapasan)
- Perubahan fisiologis (seperti
fungsi paru dan tekanan darah)
|
|
v jangka panjang
|
- Kematian akibat penyakit
respirasi/pernapasan dan kardiovaskular
- Meningkatnya Insiden dan
prevalensi penyakit paru kronik (asma, penyakit paru
osbtruktif kronis)
- Gangguan pertumbuhan dan
perkembangan janin
- Kanker
d) Polutan
udara spesifik yang banyak berpengaruh terhadap kesehatan
- Particulate Matter (PM)
Penelitian epidemiologis pada
manusia dan model pada hewan menunjukan PM10 (termasuk di dalamnya
partikulat yang berasal dari diesel/DEP) memiliki potensi besar merusak
jaringan tubuh. Data epidemiologis menunjukan peningkatan kematian
serta eksaserbasi/serangan yang membutuhkan perawatan rumah sakit
tidak hanya pada penderita penyakit paru (asma, penyakit paru obstruktif
kronis, pneumonia), namun juga pada pasien dengan penyakit
kardiovaskular/jantung dan diabetes. Anak-anak dan orang tua sangat rentan
terhadap pengaruh partikulat/polutan ini, sehingga pada daerah dengan kepadatan
lalu lintas/polusi udara yang tinggi biasanya morbiditas penyakit pernapasan
(pada anak dan lanjut usia) dan penyakit jantung/kardiovaskular (pada lansia)
meningkat signifikan. Penelitian lanjutan pada hewan menunjukan bahwa PM
dapat memicu inflamasi paru dan sistemik serta menimbulkan kerusakan pada
endotel pembuluh darah (vascular endothelial dysfunction) yang memicu
proses atheroskelosis dan infark miokard/serangan jantung koroner. Pajanan
lebih besar dalam jangka panjang juga dapat memicu terbentuknya kanker (paru
ataupun leukemia) dan kematian pada janin. Penelitian terbaru dengan follow
up hampir 11 tahun menunjukan bahwa pajanan polutan (termasuk PM10)
juga dapat mengurangi fungsi paru bahkan pada populasi normal di mana belum
terjadi gejala pernapasan yang mengganggu aktivitas.
- Ozon
Ozon merupakan oksidan fotokimia
penting dalam trofosfer. Terbentuk akibat reaksi fotokimia dengan bantuan
polutan lain seperti NOx, dan Volatile organic compounds. Pajanan jangka
pendek/akut dapat menginduksi inflamasi/peradangan pada paru dan menggangu
fungsi pertahanan paru dan kardiovaskular. Pajanan jangka panjang dapat
menginduksi terjadinya asma, bahkan fibrosis paru. Penelitian epidemiologis
pada manusia menunjukan pajanan ozon yang tinggi dapat meningkatkan jumlah
eksaserbasi/serangan asma.
- NOx dan SOx
NOx dan SOx merupakan
co-pollutants yang juga cukup penting. Terbentuk salah satunya dari
pembakaran yang kurang sempurna bahan bakar fosil. Penelitian epidemologi
menunjukan pajanan NO2,SO2 dan CO meningkatkan
kematian/mortalitas akibat penyakit kardio-pulmoner (jantung dan paru) serta
meningkatkan angka perawatan rumah sakit akibat penyakit-penyakit tersebut.
2) Studi
Tentang Kualitas Udara
Untuk menilai
problem polusi udara perkotaan di kota-kota
metropolitan dunia, WHO dan UNEP bekerjasama
dengan GEMS-Air, memprakarsai sebuah studi rinci tentang
kualitas udara 20 dikota – kota besar dunia.
Kelompok kota-kota yang terpilih itu
adalah : 3 kota di Amerika Utara, 3 kota di Amerika Selatan, sebuah kota di
Afrika, 11 kota di Asia dan 2 kota di Eropa. Kota-kota tersebut adalah : Buenos
Aires di Argentina, Sao Paulo Raya, dan Rio de janero di Brazilia, Meksiko di
Meksiko; Beijing dan Sanghai di Cina, Kairo de Raya di Mesir,
Kalkuta, New Delhi dan Bombay Raya di
India, Karaci di Pakistan, Jakarta di Indonesia,
Tokyo di Jepang, Manila di Filipina, Bangkok di Thailand, Seoul di Korea, Moskow
di Rusia, London di Britania Raya,
Los Angeles dan New York di Amerika
Serikat. Alasan utama dalam memilih kota-kota besar ini adalah, karena
kota-kota ini:
- Mempunyai masalah pencemaran paling serius
- Mempunyai wilayah daratan yang luas dengan jumlah penduduk yang besar, dimana jumlah keseluruhan penduduk di 20 kota-kota ini tahun 1990 kira-kira mencapai 234 juta orang.
- Bakal banyak kota-kota lainnya yang sedang meningkat statusnya sebagai kota metropolitan, point terakhir ini merupakan hal yang penting.
Untuk menghimpun
data-data global polusi udara dikota-kota
besar sangat sulit, karena:
1)
Informasi tentang zat-zat pencemaran dan
kesehatan mereka sering tidak ada, tidak lengkap atau
sudah usang.
2)
Adanya perbedaan dalam metodologi dan laporan antar negara, dalam negara
yang sama dan dikota-kota.
3)
Kekurangan data yang dipakai, termasuk yang
tidak mewakili persoalan dibandingkan,dan dicatat dimana yang
perlu.
3)
Pemantau Kualitas Udara
Pada tahun 1960-an
pengenalan zat-zat pencemar alam yang ada
dimana- mana seperti: SO2, NO & NO2,
CO, SPM, Pb dan O3 di udara
perkotaan, serta tertarik akan
pengaruh yang merugikan bagi
kesehatan manusia mendorong Institusi-institusi
untuk mengatur pemantauan jaringan guna
pengukuran rutin kualitas udara perkotaan.
Standard-standard kualitas udara
Nasional dan bentuk-bentuk lain
dari Undang-undang juga diperkenalkan untuk melindungi
kesehatan manusia. Banyak dinegara-negara maju UU dan
pemantauan pada mulanya difokuskan terhadap SO2 dan SPM, sejak akhir
tahun 1970 sejalan dengan datangnya dan peningkatan jumlah kenderaan bermotor
yang merupakan sumber polusi udara yang penting seperti: CO, NO & NO2
dan Pb, perkembangan jaringan pemantau polutan kualitas udara dari lalu lintas
dilakukan secara rutin.
4)
Banyak kota-kota besar didunia
kualitas udaranya memburuk karena
5)
tercemar oleh: zat-zat pencemar yang sumbernya berasal dari pabrik-pabrik
industri, kendaraan bermotor, proses
pembakaran,pembuangan limbah padat.zat-zat pencemar yang paling
sering dijumpai adalah: SO2, NO dan NO2, Pb, SPM, O3
dan CO untuk memonitor zat-zat polutan ini,
WHO (tahun 1974) telah bekerjasama dengan global
Environment monitoring System (GEMS) bagian udara. Faktor-faktor
6)
yang mempengaruhi distribusi dan transport zat polutan ini adalah: letak
topografi daerah, intensitas dan pemaparan, arah angin, suhu dan cuaca. Dampak
yang paling
7)
utama adalah terhadap kesehatan manusia
terutama pada sistem pernapasan, pembuluh darah, persarafan,
hati dan ginjal.
4)
Polusi udara di tempat kerja
Secara khusus polusi juga menyergap
di berbagai tempat kerja dan menimbulkan dampak bagi paru. Sejarah penyakit
paru akibat kerja ini dimulai semenjak pertengahan abad ke-16. Pada masa itu
Gregorius Agricola, seorang ilmuwan Eropa mencoba menemukan hubungan antara
pekerjaan dengan penyakit. Ia menerbitkan buku berjudul De re Metallica, yang
menguraikan penyakit asma akibat kerja.
Beberapa penyakit paru kerja yang
penting antara lain silikosis, asbestosis, bisinoss, pneumokoniosis pekerja
batu bara, asma kerja, dan kenker paru akibat kerja.
- Silikosis
Silikosis adalah penyakit paru kerja
yang paling banyak dijumpai akibat penimbunan silika bebas (SiO2). Penyakit ini
menimpa mereka yang bekerja di industri yang menghasilkan batu-batu untuk
bangunan, pabrik semen, perusahaan keramik, tambang timah putih, besi, batu bara,
perusahaan granit, pabrik besi dan baja, atau sejenis yang lainnya.
Secara klinis silikosis dibagi dalam
tiga tingkatan. Tingkat pertama adalah simple silicosis yang ditandai dengan
penderita mulai mengeluh sesak ringan. Pada tingkat dua atau silikosis sedang,
sesak serta batuk makin menjadi dan faat paru jelas mulai terganggu. Pada
tingkat ketiga kelainan paru makin menghebat dan dapat terjadi kor pulmonale.
Sampai sekarang belum ada pengobatan
spesifik untuk silikosis. Untuk itu pencegahan harus diutamakan. Misalnya saja,
cara pencegahan tetap harus senantiasa diutamakan. Kadar silika bebas di
lingkungan kerja harus selalu di bawah nilai ambang batas. Cara substitusi juga
dapat dilakukan, misalnya dengan mengganti tepung silika dengan bahan zirconium
pada penuangan besi/baja dan penggunaan carborundum atau alumina untuk
penggurindaan.
- Asbestosis
Asbes banyak sekali dipergunakan
sehari-hari mulai dari bahan pembuat kabel listrik, cat, ban kendaraan bermotor
serta bantalan rem, sampai atap rumah. Secara umum asbes dapat menimbulkan tiga
penyakit di paru, yaitu asbestosis, kanker paru, dan mesotelioma. Tidak ada
pengobatan spesifik untuk asbestosis. Di banyak negara maju sudah ada aturan
khusus untuk penggunaan asbes yang dikenal dengan The Asbestos Regulation.
- Bisinosis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan
oleh Dr. Kay dari Inggris dari awal abad XIX. Ia menemukan adanya gangguan
pernapasan pada pekerja di pabrik tekstil. Penyakit terjadi karena paparan debu
kapas secara berlebihan. Nama bisinosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti
kain atau rami. Yaitu keluhan rasa berat/sempit di dada dan sesak napas pada
hari pertama masuk kerja setelah libur akhir pekan. Sehingga sering disebut
moday fever.
- Kanker paru akibat kerja
Kanker paru adalah kanker pada pria
yang paling sering ditemukan di dunia. Faktor utama penyebab kanker paru adalah
kebiasaan merokok. Di lain pihak, polusi udara di tempat kerja ternyata bisa
juga menjadi pemicu.
Berbagai bahan telah diteliti
sehubungan dengan kanker paru ini. Acrylonitrile yang banyak digunakan pada
tanaman adalah salah satu contohnya. Demikian pula arsen, pada peleburan
tembaga. Logam kadmium pada industri batu baterai. Berilium pada industri
tabung dan lampu pijar. Serta chromium, vynil, chloride, dan asbes.
5)
Sumber pencemar uadara
Banyak faktor yang dapat menyebabkan
pencemaran udara, diantaranya pencemaran yang ditimbulkan oleh sumber-sumber
alami maupun kegiatan manusia atau kombinasi keduanya. Pencemaran udara dapat
mengakibatkan dampak pencemaran udara bersifat langsung dan lokal, regional,
maupun global atau tidak langsung dalam kurun waktu lama.
Pencemar udara dibedakan menjadi
pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi
pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon
monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia
merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah
substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer.
Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh
dari pencemaran udara sekunder.
Atmosfer merupakan sebuah sistem
yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan
efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer semakin
meningkat.
Kegiatan manusia
- Transportasi
- Industri
- Pembangkit listrik
- Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis bahan bakar)
- Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)
Sumber alami
- Gunung berapi
- Rawa-rawa
- Kebakaran hutan
- Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi
Sumber-sumber lain
- Transportasi amonia
- Kebocoran tangki klor
- Timbulan gas metana dari lahan uruk/tempat pembuangan akhirsampah
- Uap pelarut organic
6)
Jenis-jenis pencemar udara
Ada delapan(8) jenis pencemara
udara, di antaranya:
- Karbon Monoksida CO
- Sulfur Oksida (SOx)
- Ozon (O3)
- Hidrokarbon (HC)
- Khlorin (Cl2)
- Partikulat Debu (TSP)
- Timah Hitam (Pb)
- Nitrogen Dioksida (CO2)
Pengertian:
- Karbon monoksida (CO)
Asap kendaraan merupakan sumber
utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60%
pencemaran udara di Jakarta disebabkan karena benda bergerak atau transportasi
umum yang berbahan bakar solar terutama berasal dari Metromini. Formasi CO
merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses
pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik antara
udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan
Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO. Karbon
monoksida yang meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya
berat janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena
itu strategi penurunan kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian
emisi seperti pengggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida
menjadi karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah
polusi bagi kendaraan bermotor.
- Sulfur Oksida (SOx)
Pencemaran oleh sulfur oksida
terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk gas yang tidak berwarna,
yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), yang keduanya disebut
sulfur oksida (SOx). Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi
sistem pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan
terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa individu
yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang
berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang
mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular.
- Ozon (O3)
Ozon merupakan salah satu zat
pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor, oksigen dan oksigen fluorida
(OF2). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil tetapi lapisan ozon sangat
berguna untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon terbentuk
di udara pada ketinggian 30km dimana radiasi UV matahari dengan panjang
gelombang 242 nm secara perlahan memecah molekul oksigen (O2) menjadi atom
oksigen, tergantung dari jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat
membentuk ozon. Ozon menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah
panjang gelombang 240-320 nm.
- Hidrokarbon (HC)
Hidrokarbon di udara akan bereaksi
dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic
aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat
lalu lintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan
merangsang terbentuknya sel-sel kanker
- Khlorin (Cl2)
Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas
berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat jenis gas khlorin 2,47 kali
berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen khlorida yang toksik. Gas khlorin
sangat terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada perang dunia
ke-1.Selain bau yang menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata
saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan
bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat
sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan peradangan. Gas khlorin juga dapat
mengalami proses oksidasi dan membebaskan oksigen seperti pada proses yang
terjadi di bawah ini.
- Partikulat Debu (TSP)
Pada umumnya ukuran partikulat debu
sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk ke dalam
paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran
partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat
yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan
menyebabkan iritasi.
- Timah Hitam (Pb)
Gangguan kesehatan adalah akibat
bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan
pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala keracunan akut
didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut
muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu
makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang dan
gangguan penglihatan.
- Nitrogen Dioksida (CO2)
NO2 bersifat racun terutama terhadap
paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar
binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala
pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan
mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29
menit atau kurang. Percobaan dengan pemakaian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10
menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
Pertumbuhan polusi
kota dan tingkat industrialisasi yang tak
terhindar, akan mengarah kepada kebutuhan enegi
yang lebih besar, pada umumnya akan
menghasilkan pembuabuangan limbah atau zat pencemar
lebih banyak.pembakaran bahan bakar posil untuk pemanasan
rumahtangga untuk pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, dalam
proses-proses industri dan pembuangan limbah padat
dengan pembakaran merupakan sumber utama dari
pembuangan limbah zat-zat pencemar didaerah perkotaan.
Zat-zat pencemar udara yang paling
sering dijumpai dilingkungan perkotaan adalah: SO2,
NO dan NO2, CO, O3, SPM (Suspended
Particulate Matter) dan Pb. SO2 berperan
dalam terjadinya hujan asam dan polusi
partikel sulfat aerosol. NO2 berperan terhadap polusi partikel
dan deposit asam dan prekusor ozon yang merupakan unsur pokok dari kabut
fotokimia. Asap dan debu termasuk polusi partikel. Ozon, CO,
SPM, dan Pb seluruhnya telah dibuktikan
memberi pengaruh yang merugikan kesehatan manusia. Pembakaran bahan bakar
fosil di sumber-sumber yang menetap, mengarah terbentuknya produksi
SO2, NO dan NO2 serta Pb,
sedangkan masing-masing berminyak solar jelas
terbukti menghasilkan sejumlah partikel dan SO2
sebagai tambahan dari NO dan NO2.
Suatu hal yang perlu diperhatikan
pada beberapa negara berkembang adalah
Cenderung banyaknya
kendaraan bermotor tua dan tak terawat
sehingga jelas merupakan suatu faktor yang menunjukkan kendaraan tersebut
adalah sumber zat-zat pencemar. Banyaknya jumlah kendaraan bermotor didunia
saat ini dipusatkan kedalam kelompok ekonomi pendapatan
tinggi dunia. Pada tahun 1988,
negara-negara OECD (Organization for Economic
Cooperation and Development) mencatat bahwa dari
80% jenis-jenis mobil didunia: 70%nya adalah jenis truk dan bus-bus , >50%
merupakan kendaraan beroda dua dan tiga.
Sebagai tambah
zat-zat pencemar udara yang lebih
tradisionil yang lebih umum, sejumlah besar
racun dan zat kimia dideteksi telah
meningkat jumlahnya diudara perkotaan, walaupun dengan konsentrasi
rendah. Contohnya :
- Logam-logam berat pilihan (Berilium, Cadnium, Merkuri)
- Sedikit zat-zat organik (Benzene, Polychlorodi benzo-dioxid, Furan,Formaldehide, Vinychloride, Polyaromatic hidrokarbon)
- Radionucleids seperti ; rado
- Fibers; Asbes
Bahan-bahan kimia
tersebut dikeluarkan dari bermacam-macam sumber
seperti pembakaran sampah, pabrik-pabrik pengelolah
limbah, proses-proses industri dan manufaktur, dry
cleaning, bahan-bahan bangunan, dan kendaraan bermotor.
Walaupun emisi-emisi zat kimia
ini umumnya lebih rendah
kadarnya dibandingkan zat pencemar tradisionil,
namun jelas polutan ini memberi resiko terhadap
kesehatan sehubungan dengan daya racun mereka yang sangat tinggi atau bersifat
karsinogenik bahkan bisa keduanya. Zat-zat polutan ini
lebih sering dianalisa karena rendahnya
konsentrasi mereka diudara, juga karena pengawasan yang sangat kurang.
Untuk itu dilakukan pengawasan secara otomatis.
7)
Distribusi dan transportasi
Dua hal yang sangat mempengaruhi
panyebaran dan transportasi dari zat-zat
Pencemar udara, yakni iklim dan
cuaca, serta letak topografi daerah yang dikaitkan dengan penyebaran penduduk.
Iklim-iklim dikota besar berbeda dengan benua yang lebih dingin dan lembab
(seperti di Beijing yang sangat dingin), dibandingkan dengan daerah yang di
Gurun (Kairo) atau tropical dengan temperatur sedang dan kelembaban tinggi
(Bangkok). Akibat beratnya musim
dingin, dapat menentukan jumlah
pemanasan yang dibutuhkan penduduk sehingga
meningkatkan emisi-emisi polutan, seperti SO2
diwaktu musim dingin. Pada kota-kota dengan
temperatur sedang, beban polusi cenderung disebarkan secara
merata sepanjang tahun. Thermal inversion (pembalikan suhu) merupakan masalah
khusus bagi kota- kota dengan iklim panas dan
dingin.
Dalam keadaan
penyebaran normal, gas-gas pencemar yang panas akan timbul disaat
mereka datang dan kontak dengan masa udara yang dingin, pada ketinggian
yang lebih tinggi. Bagaimanapun lingkaran-lingkaran tertentu, suhu udara lebih
meningkat jauh dan membentuk suatu lapisan inversi beberapa puluh atau ratus
meter diatas tanah. Lapisan ini akan merangkap polutan-polutan yang dekat
sumber-sumber emisi dan berperan sebagai pelindung
panas, memperlambat penyebarannya. Kondisi-ondisi
seperti ini akan menjadi permasalahan jika
kecepatan angin rendah. Keadaan isotermal adalah
suatu keadaan yang dijumpai bila tidak
ada perubahan dalam temperatur didaerah
ketinggian, sehingga mempunyai pengaruh
yang sama. Fenomena iklim dan cuaca
lain yang sangat mempengaruhi kualitas
udara adalah heat urban island yaitu panas
yang dihasilkan oleh sebuah kota mengakibatkan
meningkatnya suhu udara, sehingga terjadi penarikan suhu lebih dingin kedalam
dan kemungkinan udaranya lebih tercemar dari daerah-daerah industri sekitarnya.
Sebaiknya pada kota-kota yang bersuhu lebih
tinggi, yang terkena sinar matahari dengan kepadatan
lalu lintas yang tinggi, cenderung mudah terbentuknya jaringan ozon dan
fotokimia oksidan lain dari emisi-emisi polutan.
Letak tofografi
kota-kota besar juga dapat mempengaruhi
sifat penyebaran dan transport zat-zat polutan, contohnya sebagai
berikut:
- Beijing, Kairo, New Delhi dan Moskow mempunyai tingkat tofografi relatif dan iklimnya tak dipengaruhi oleh molekul air .
- Bangkok, bombay, Buenos aires, Calcutta, Jakarta, Karachi, London, Manila, New York, Shanghai dan Tokyo mempunyai tingkat tofografi yang relatif dan iklimnya dipengaruhi oleh molekul air.
- Los Angeles, Mexico city, Rio de janeiro, Sao paolo dan Seoul mempunyai tofografi beraneka ragam dan suhunya dipengaruhi oleh pegunungan disekitarnya.
Keberadaan yang
jelas dari suatu badan air/molekul dapat
mempengaruhi iklim mikro dan arah angin pantai siang dan malam hari.
Bukit-bukit yang mengitari kota-kota sering berfungsi
sebagai penghalang hembusan angin, perangkap
polusi yang dekat kekota. Pada kota-kota
yang dikitari oleh pegungungan tinggi, seperti
Los Angeles dan Mexico City, zat-zat
polutan mungkin akan terperangkap dalam
udara selama beberapa hari.
Daerah pegunungan juga
berfungsi sebagai penghambat transportasi polusi udara di kota-kota
besar. Pada kota-kota dengan bangunan berstruktur tinggi penyebaran emisi
polutan akibat angin besar
lebih rendah (The Canyon
Effect), karena terhalang oleh
bangunan
8)
Dampak pencemaran udara terhadap manusia
- Mempengaruhi penurunan daya pikir
Menurut hasil penelitian, polusi
udara bisa mempengaruhi penurunan daya pikir kita.
Beberapa tahun lalu suatu penelitian
besar-besaran dengan subyek perempuan yang disebut Penelitian Kesehatan Perawat
mengumpulkan data mengenai daya ingat, keterampilan berpikir, dan dimensi
berpikir lainnya.
Jennifer Weuve dari Rush
Institute of Healthy Aging di Chicago mengkombinasikan data ini dengan
informasi tentang kualitas udara di mana para perempuan ini tinggal.Secara
khusus, ia membandingkan kandungan partikel polutan udara tertentu dengan
perubahan dalam indeks kemampuan berpikir dalam jangka waktu beberapa tahun.Ia
memaparkan, Penemuan paling penting dalam penelitian kami adalah, perempuan
yang terpapar pada lingkungan dengan tingkat partikel yang lebih tinggi dalam
jangka waktu lama, mengalami penurunan dalam indeks kemampuan daya pikir mereka
dalam masa empat tahun ketika kami mengamati mereka.Jika penurunan daya pikir
terjadi lebih cepat ketika kualitas udara memburuk, bagaimana caranya polusi
dapat menyebabkan hilangnya kemampuan dan fungsi mental atau pikiran?
Weuve mengatakan bahwa
partiel-partikel di udara tersebut bisa saja masuk ke dalam otak secara
langsung. Ukurannya sangat kecil – 10 mikron, seperseribu milimeter – dan
mereka dapat menyerang daya tahan tubuh normal serta mencapai otak baik melalui
paru-paru atau liang sinus di kepala
Beberapa penelitian menemukan,
partikel-partikel ini – setidaknya sebagian – bisa sungguh-sungguh masuk ke
otak di mana mereka menyebabkan peradangan dan bahkan dapat menyebabkan
perubahan miskroskopis yang merupakan gejala penyakit Alzheimer,” paparnya lagi.Bisa
juga penurunan kemampuan berpikir ini terjadi secara tidak langsung. Banyak
penelitian telah mengidentifikasi hubungan antara polusi udara dan penyakit
jantung, dan penurunan kemampuan berpikir ini bisa saja disebabkan oleh
kerusakan sistem pasokan darah.
Sebagai contoh, penelitian yang
diterbitkan di jurnal yang sama dengan makalah Weuve, yakni “Archives of
Internal Medicine,” menemukan bahwa risiko serangan jantung lebih tinggi ketika
lebih banyak terdapat partikel polutan di udara. Partikel halus ini kebanyakan berasal
dari knalpot kendaraan.
Penelitian dalam Jurnal Asosiasi
Medis Amerika (JAMA) menggabungkan hasil dari 34 penelitian dan menemukan
hubungan secara statistik yang signifikan antara risiko serangan jantung dan
sejumlah besar polutan udara, kecuali ozon.
Para peneliti mengatakan bahwa
sebagai faktor resiko untuk serangan jantung, polusi udara tidaklah sebegitu
berbahaya dibandingkan merokok dan tekanan darah tinggi. Namun di sisi lain,
polusi udara, terutama bagi yang tinggal di daerah kota dan negara-negara
industri, adalah hal yang tidak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengakibatkan stroke
Salah satu penelitian di Amerika
menyebutkan bahwa udara yang kotor turut memicu serangan stroke.
Penelitian yang dipublikasikan dalam
Archives of Internal Medicine menyebutkan, tinggal dalam waktu yang lama
dengan lingkungan yang tidak sehat seperti polusi udara menyebabkan kemungkinan
penyakit stroke yang lebih tinggi.
Penelitian tersebut mengkaji catatan
medis dari sekitar 1.700 pasien stroke yang dirawat di Deaconess Beth Israel
Medical Center di Boston antara 1999-2008.
Dari hasil penelitian ditemukan
bahwa sebagian besar pasien tinggal di tempat dengan udara kotor melalui data
dari stasiun pemantauan polusi udara lokal, sehingga lambat laun akan memicu
penurunan fungsi kognitif dan pada akhirnya memicu serangan stroke.Dalam
penelitian disebutkan bahwa peningkatan risiko terbesar dari efek terburuk
polusi yaitu pada siang hari pukul 12 sampai pukul 2 siang.
Mengakibatkan serangan jantung
Sebuah studi terbaru mengungkapkan
bahwa udara terkait dengan kenaikan resiko serangan jantung.
Seperti yang di kutip dari
ST,bernapas di udara kotor/yang banyak tercemar oleh zat-zat kimia dapat
mengakibatkan serangan jantung terhadap manusia,beberapa hari sesudahnya,
ungkap sebuah penelitian yang di lakukan di Paris, Prancis. Penelitian yang di
pimpin Dr.Hajrije Mustafic dari Paris Cardiovascular Researcha Center,menemukan
bahwa serangn jantung didapatkan dari semua tingkat polutan yang ada kecuali
Ozon,ungkap laporan yang dipublikasikan di Journal of the American Medical
Association.
Para peneliti di studi ini melihat
pada 34 studi yang diabandingkan dengan risiko menderita serangan jantung,di
berbagai tingkatan,yang tercampur polusi udara,selain itu laporan ini juga
termasuk hasil survey dari sekitar 400 sampai 300 ribu orang dengan serangan
jantung.
- Tingkatkan risiko kelahiran premature
Polusi udara dan adanya lapisan ozon
dekat dengan Bumi diduga meningkatkan risiko kelahiran prematur dan hal itu
dapat terjadi sebelum minggu ke-37.
Sebuah studi oleh para peneliti di
Universitas Umeå di utara Swedia membuktikan hal tersebut, lewat survei yang
diikuti oleh 115 ribu ibu di Stockholm, daerah Charlene.Hasil studi yang
dilakukan sebelumnya di kota-kota lain juga mengkonfirmasi kesimpulan tersebut.Jika
Anda menambahkan bersama efek dari sejumlah besar gas buang dan ozon, jumlah
itu melebihi efek dari merokok, kata David Olsson, seorang ahli dalam bidang
Kedokteran Kesehatan dan Klinis dari universitas Umea, dalam sebuah wawancara
dengan koran Svenska Dagbladet.Dalam pandangannya, lantaran Ozon terletak dekat
dengan permukaan bumi, diduga dapat mengganggu perkembangan plasenta, maka
dengan demikian juga mempengaruhi waktu kelahiran.
Pada tahap akhir kehamilan dapat
menyebabkan peradangan gas buang di saluran udara, sehingga dapat membuat ibu
keburu melahirkan di rumah.Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa anak
yang lahir prematur lebih rentan terhadap asma dan penyakit pernapasan lainnya.
9)
Dampak terhadap tanaman
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan
tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan
penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi
di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis
- Hujan asam
pH
normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara
seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH
air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
- Mempengaruhi kualitas air permukaan
- Merusak tanaman
- Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
- Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
- Efek rumah kaca
Efek
rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan
N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas
matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap
dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan
global.
Dampak dari pemanasan global adalah:
- Pencairan es di kutub
- Perubahan iklim regional dan global
- Perubahan siklus hidup flora dan fauna
- Kerusakan lapisan ozon
Lapisan
ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan
pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi
ultraviolet
B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi
secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat
sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari
pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.Kerusakan
lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat
mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.
10) Daftar kota polutan
terburuk dan terendah
Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis
daftar kota dengan tingkat polusi udara tertinggi. Kota tersebut bukan Beijing
atau Mumbai yang identik dengan udara kotor melainkan kota kecil di Iran yang
bernama Ahvaz. Kota ini memiliki tingkat polusi udara untuk PM10 hingga 372
mikrogram per meter kubik melebihi batas ambang maksimal WHO PM10 sebesar 20
mikrogram. Daftar WHO tersebut berisi hasil pemantauan polusi udara di 1.082
kota dari 91 negara. Hasilnya, kota-kota di Iran, India, Pakistan dan Mongolia
menempati peringkat terburuk, sementara kota-kota di Amerika Serikat dan Kanada
mendapat peringkat terbaik.
WHO merilis daftar tersebut pada
Senin 26 September 2011 untuk menyoroti pentingnya pengurangan polusi udara
yang diperkirakan menyebabkan 1,34 juta kematian per tahun. Daftar tersebut
diperoleh sesuai laporan tahunan yang menghitung kadar partikel udara pada
1.082 kota di dunia. Pengukuran polusi udara menggunakan satuan partikulat atau
dikenal juga dengan sebagai materi partikulat atau particulate matter (PM),
yaitu bagian kecil dari materi padat yang terkandung dalam udara atau air.
Kategorisasi yang paling umum digunakan pada partikel menggunakan ukurannya.
Sebuah partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang yang bergerak di
udara disebut PM10. Ada juga PM2.5 yang menunjuk pada partikel dengan diameter
kurang dari 2,5 mikrometer dalam udara yang bergerak bebas.
WHO merekomendasikan batas maksimal
PM10 sebesar 20 mikrogram dapat menyebabkan penyakit pernafasan serius bagi
manusia. Sebagian besar polutan udara tersebut adalah senyawa sulfur dioksida
dan nitrogen dioksida yang dihasilkan dari pembangkit listrik, knalpot mobil,
dan industri. Kota Ahvaz di Iran barat daya memiliki tingkat tertinggi PM10
rata-rata tahunan yaitu sebesar 372 mikrogram per meter kubik. Industri berat
dan bahan bakar kendaraan berkualitas rendah adalah penyebab utama polusi udara
di kota padang pasir dengan populasi 1,3 juta orang ini. Studi ini juga
menemukan bahwa ibukota Mongolia, Ulan Bator, memiliki rata-rata kepadatan PM10
tahunan 279 mikrogram per meter kubik. Disusul oleh kota di sebelah barat Iran,
Sanandaj dengan 254 mikrogram PM10 per meter kubik.
Kota-kota di Pakistan dan India
seperti Quetta dan Kanpur, serta ibu kota Botswana, Gaborone juga menduduki
peringkat tinggi pada tingkat polusi udaranya. WHO mengatakan bahwa penyebab
tingginya tingkat polusi udara bervariasi. Cepatnya industrialisasi dan
penggunaan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik yang berkualitas
rendah seringkali menjadi sumber masalah. Daerah metropolitan India seperti New
Delhi, Mumbai dan Kalkuta, telah melarang pembangunan pembangkit listrik baru
dalam batas kota, sedangkan pembangkit listrik yang sudah ada ditutup atau
dipindahkan. Namun, di saat yang sama, kurangnya angkutan umum telah
menyebabkan ledakan mobil milik pribadi dan SUV sehingga meningkatkan jumlah
polusi kendaraan diesel 10 kali lipat karena bahan bakar diesel disubsidi oleh
pemerintah. Di Ulan Bator Mongolia, polusi udara disebabkan oleh pembakaran
batu bara, kayu dan bahan-bahan lain untuk keperluan pemanasan, memasak, dan
pembangkit listrik. Pembangkit listrik batu bara menghasilkan asap ke langit
kota yang terletak di sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan sehingga
menjebak dan menahan polusi seperti di kota Beijing.
Di Ulan Bator banyak dihuni mantan
penggembala dan petani yang tinggal di tenda-tenda atau gubuk-gubuk kayu dengan
sedikit listrik dan panas, maka mereka mengandalkan pembakaran batubara, kayu,
dan kotoran kering untuk memasak dan menjaga makanan tetap hangat. Asap
pembakaran itu berkumpul dengan emisi kendaraan menciptakan selimut kabut asap
tebal yang menutupi kota hampir sepanjang tahun.
Kota Polusi Terendah
Di sisi lain daftar, yaitu kota-kota
dengan tingkat polusi udara terendah ditempati oleh kota-kota di Kanada dan
Amerika Serikat. Kota-kota ini sangat diuntungkan karena kepadatan penduduknya
yang rendah, iklim yang menguntungkan, dan regulasi polusi udara yang ketat.
Whitehorse, ibu kota negara federal
Yukon di Kanada, memiliki PM10 rata-rata tahunan hanya 3 mikrogram per meter
kubik, sementara Santa Fe, New Mexico, hanya 6 mikrogram PM10 per meter kubik.
“Ini benar-benar indah,” kata walikota Whitehorse, Bev Buckway. “Banyak orang
datang dari utara, mereka mencium udara dan mengatakan ‘Oh wow, menakjubkan.
Bau udaranya sangat bagus’,” katanya seperti dikutip dari HuffingtonPost,
Walikota Santa Fe, David Coss, mengatakan bahwa dia senang tapi tidak terkejut
karena kotanya secara konsisten selalu mendapat peringkat tinggi kebersihan
udara dari American Lung Association. “Udara bersih adalah salah satu hal yang
saya cintai di Santa Fe,” katanya. Washington DC, memiliki tingkat PM10 18
mikrogram, Tokyo sebesar 23 mikrogram, dan Paris 38 mikrogram PM10 per meter
kubik.
WHO juga merilis sebuah tabel yang
membandingkan kadar partikel debu yang lebih halus, yaitu PM2,5. Kadar PM2,5
sudah dianggap berbahaya jika mencapai 10 mikrogram per meter kubik. Untuk
polutan PM2,5, kota dengan tingkat polusi udara terburuk diraih oleh Ulan Bator
dengan 63,0 mikrogram PM2,5 mer meter kubik.
Daftar 15 kota dengan tingkat polusi
udara terburuk adalah sebagai berikut:
- Ahwaz (Iran)
- Ulan Bator (Mongolia)
- Sanandaj (Iran)
- Ludhiana (India)
- Quetta (pakistan)
- Kemanshah (Iran)
- Peshawar (Pakistan)
- Gaborone (botswana)
- Yasouj (Iran)
- Kanpur (India)
- Lahotre (Pakistan)
- Delhi (India)
- Karachi (Pakistan)
- Islamabad (Pakistan)
- Lucknow (India)
Daftar 15 kota dengan tingkat polusi
udara terendah yaitu:
- Whitehorse (Kanada)
- Kitimat (Kanada)
- Burns Lake (Kanada)
- Houston (Kanada)
- Clearlake (Amerika Serikat)
- Nanaimo (Kanada)
- Terrace (Kanada)
- Corner Brook (Kanada)
- Frederiction (Kanada)
- Nelson (Kanada)
- Santa Fe (Amerika Serikat)
- Medicine Hat (Kanada)
- Kahului-Wailuku (Amerika Serikat)
- Cheyenne (Amerika Serikat)
- Smithers (Kanada).
DAFTAR PUSTAKA
http://www.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8657:polusi-udara-di-kota-&catid=59:opini&Itemid=215
Tidak ada komentar:
Posting Komentar