ABSTRAK
Tidak bisa dipungkiri manusia adalah
makhluk psiko-fisik, yang artinya selain bisa ditinjau aspek fisiknya, manusia
juga tidak lepas dari aspek psikologi/naluri yang ada dalam dirinya. Oleh
karena itu, selain memiliki kebutuhan-kebutuhan fisiologi (kebutuhan yang
mendasar), kebutuhan-kebutuhan psikologis dalam diri individu juga
merupakan sesuatu hal yang akan memberikan warna khusus/ciri khas pada
individu tersebut. Individu dengan dominasi kebutuhan-kebutuhan tertentu
mempunyai kecenderungan untuk ingin lebih memuaskan kebutuhan-kebutuhan
tersebut. Sama halnya dengan kebutuhan fisik seperti makan, minum, tidur,
berolah raga dan lain sebagainya yang harus dipenuhi secara baik agar fisik
dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat dan baik. Demikian juga kebutuhan
sosial seseorang yang membutuhkan hubungan dengan orang lain agar dapat
mencapai perkembangan optimal, dan juga kebutuhan kognitif yang membutuhkan
rangsangan dari luar agar mampu berkembang optimal juga, maka kebutuhan
psikologis pada seseorang juga harus terpenuhi agar dirinya mampu berkembang
secara baik dan sehat secara psikologis. Dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan seorang anak menuju kedewasaan,terjadi perubahan
perubahan/perkembangan kebutuhan secara psikis.
Kata Kunci: Kebutuhan, Kebutuhan Psikologi, Perkembangan Kebutuhan Psikologi
PENDAHULUAN
Sebelum mambahas tentang kebutuhan
individu/manusia secara naluri (psikologi), perlu diketahui apa itu pengertian
psikologi.
Secara etimologis, psikologi berasal
dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos”
atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu
jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu
syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita
mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang
jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa
diamati secara langsung.
Berkenaan dengan obyek psikologi
ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari
jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan
lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu
ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan
lingkungannya yang secara global dibangun berdasarkan pandangan terhadap
naluri dan otak.
Kebutuhan Dasar
Individu
Sebagai makhluk psiko-fisik, manusia
sejak bayi sudah memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisik dan
kebutuhan psikis. Kebutuhan sosial psikologis seseorang akan semakin lebih
banyak dibandingkan kebutuhan fisiknya sejalan dengan usianya. Secara umum
setiap manusia membutuhkan cinta kasih, penghargaan pribadi, pemenuhan
kebutuhan fisik, pelatihan disiplin dan kesempatan untuk mengembangkan berbagai
aspek kehidupannya.
Oleh karena itu sebagai makhluk
psiko-fisik manusia memiliki potensi kehidupan yang memiliki dua manifestasi:
- Kebutuhan jasmani, menuntut pemuasan secara pasti apabila tidak dipenuhi bisa menyebabkan kematian pada manusia.
- Naluri kemanusiaan (secara Psikologi), menuntut pemuasan namun apabila tidak terpenuhi tidak akan menyebabkan kematian, tetapi akan menderita dan tergoncang akibat tidak terpenuhi kebutuhannya. Naluri-naluri tsb merupakan perasaan akan kelemahan dirinya, perasaan akan melestarikan keturunan dan perasaan untuk mempertahankan eksistensinya.
Sedangkan selain naluri diatas
hanyalah manifestasi-manifestasi bagi naluri seperti mengagungkan Tuhan,
menyanjung pahlawan, beribadah merupakan manifestasi dari naluri beragama.
Kecenderungan suka terhadap lawan jenis, mencintai orang tua, istri, anak,
saudara merupakan manifestasi dari naluri melestarikan keturunan. Rasa takut,
sombong, cinta kedaulatan, marah, pemilikan merupakan manifestasi dari naluri
mempertahankan diri.
Basic Needs Individuals
As a psycho-physical beings, humans since the baby already has basic needs that need physical and psychological needs. One's social needs will be increasingly more psychological than physical needs in line with his age. In general, every man needs love, respect personal, physical fulfillment, training, discipline and the opportunity to develop various aspects of life.
Therefore, as the psycho-physical human beings have the potential of life which has two manifestations:
1. Physical needs, demanding satisfaction for sure if not met can cause death in humans.
2. The instinct of humanity (in Psychology), demanding satisfaction but if not met will not cause death, but will suffer and shaken due to unmet needs. TSB instincts are his feelings of weakness, the feeling will preserve the lineage and feeling to sustain its existence.
While the above is just an instinct other than the manifestations of instinct as glorifying God, lauds hero, worship is a manifestation of the religious instinct. Like the tendency towards the opposite sex, loving parents, wife, son, brother is a manifestation of the instinct to preserve ancestry. Fear, pride, love of sovereignty, angry, ownership is a manifestation of the instinct to defend themselves
As a psycho-physical beings, humans since the baby already has basic needs that need physical and psychological needs. One's social needs will be increasingly more psychological than physical needs in line with his age. In general, every man needs love, respect personal, physical fulfillment, training, discipline and the opportunity to develop various aspects of life.
Therefore, as the psycho-physical human beings have the potential of life which has two manifestations:
1. Physical needs, demanding satisfaction for sure if not met can cause death in humans.
2. The instinct of humanity (in Psychology), demanding satisfaction but if not met will not cause death, but will suffer and shaken due to unmet needs. TSB instincts are his feelings of weakness, the feeling will preserve the lineage and feeling to sustain its existence.
While the above is just an instinct other than the manifestations of instinct as glorifying God, lauds hero, worship is a manifestation of the religious instinct. Like the tendency towards the opposite sex, loving parents, wife, son, brother is a manifestation of the instinct to preserve ancestry. Fear, pride, love of sovereignty, angry, ownership is a manifestation of the instinct to defend themselves
TINJAUAN
PUSTAKA/KAJIAN TEORI
Kebutuhan adalah suatu keadaan yang
ditandai oleh perasaan kekurangan dan ingin diperoleh sesuatu yang akan
diwujudkan melalui suatu usaha atau tindakan (Murray dalam Bherm, 1996).
Menurut Thomson (1987)
mendefinisikan istilah need atau kebutuhan sebagai istilah yang sering
digunakan untuk menunjuk suatu drive atau dorongan seperti contohnya
manusia membutuhkan tidur, dan kelinci butuh menggali liang. Sehingga disini
kata kebutuhan tersebut menunjukkan adanya suatu kekuatan yang bersifat
memotivasi yang mendorong terbentuknya suatu ketegangan dalam diri makhluk
hidup karena adanya kekurangan-kekurangan tertentu. Jadi dari kedua jabaran
definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kata need atau kebutuhan
bersifat fisik dan mendasar, sedangkan drive atau dorongan lebih
merupakan kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi dan bersifat psikologis.
Pada dasarnya, kebutuhan individu
dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar, yaitu kebutuhan fisiologis dan
psikologis (Cole dan Bruce, 1959). Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan primer
seperti makan, minum, tidur, seksual, atau perlindungan diri. Sedangkan
kebutuhan psikologis (yang akan dibahas dalam jurnal ini) mencakup kebutuhan
untuk mengembangkan kepribadian pada seseorang. Contohnya adalah kebutuhan
untuk memiliki sesuatu, dimana kebutuhan psikologis tersebut bersifat lebih
rumit dan sulit dididentifikasi segera.
REFERENCES REVIEW / STUDY OF THEORY
Necessity is a condition characterized by feelings of lack and want to obtain something that will be realized through an operation or action (in Bherm Murray, 1996).
According to Thomson (1987) defines the term need or demand as that term is often used to designate a drive or drive like eg humans need sleep, and rabbits need to dig burrows. So here said the need had been shown to be a motivating force that drives the formation of a tension in living things because of certain shortcomings. Thus the two descriptions of the above definition, it can be concluded that the word need or physical needs and fundamental, while the drive or impetus rather a requirement that hierarchically higher and psychological.
Basically, individual needs can be divided into two major groups, namely the physiological and psychological needs (Cole and Bruce, 1959). Physiological needs are primary needs such as eating, drinking, sleeping, sexual, or self-protection. While the psychological needs (to be discussed in this journal) includes the need to develop in a person's personality. An example is the need to have something, where these psychological needs are more complicated and difficult dididentifikasi immediately.
Necessity is a condition characterized by feelings of lack and want to obtain something that will be realized through an operation or action (in Bherm Murray, 1996).
According to Thomson (1987) defines the term need or demand as that term is often used to designate a drive or drive like eg humans need sleep, and rabbits need to dig burrows. So here said the need had been shown to be a motivating force that drives the formation of a tension in living things because of certain shortcomings. Thus the two descriptions of the above definition, it can be concluded that the word need or physical needs and fundamental, while the drive or impetus rather a requirement that hierarchically higher and psychological.
Basically, individual needs can be divided into two major groups, namely the physiological and psychological needs (Cole and Bruce, 1959). Physiological needs are primary needs such as eating, drinking, sleeping, sexual, or self-protection. While the psychological needs (to be discussed in this journal) includes the need to develop in a person's personality. An example is the need to have something, where these psychological needs are more complicated and difficult dididentifikasi immediately.
Teori Kebutuhan menurut Maslow
Maslow (1954) membagi berbagai aspek
kebutuhan secara berjenjang menjadi 6 aspek kebutuhan, yang 5 diantaranya
merupakan kebutuhan-kebutuhan individu yang bersifat psikologis.
Hierarki Kebutuhan Maslow
According to Maslow's Needs Theory
Maslow (1954) divide the various aspects of the requirement in stages into 6 aspects of needs, the five of them are individual needs that are psychological.
Maslow's Hierarchy of Needs
Maslow (1954) divide the various aspects of the requirement in stages into 6 aspects of needs, the five of them are individual needs that are psychological.
Maslow's Hierarchy of Needs
Teori Kebutuhan menurut Lindgren
Sejalan dengan teori kebutuhan
Maslow, pada pembahasan ini akan diambil suatu teori kebutuhan yang sifatnya mendasar
yang dikembangkan oleh Lindgren (1980). Arti mendasar disini pada umumnya
setiap individu memiliki kebutuhan ini. Lindgren mengklasifikasikan kebutuhan
dasar individu menjadi 4 aspek, yang sebenarnya ada juga di dalam teori
kebutuhan oleh Maslow.
Klasifikasi 4 aspek kebutuhan
tersebut adalah seperti berikut.
Needs theory according to Lindgren
In line with Maslow's needs theory, this discussion will be taken on a theory that is fundamental needs developed by Lindgren (1980). Fundamental meaning here in general each individual has this requirement. Lindgren basic needs of individuals classified into 4 aspects, which in fact there is also in the theory of needs by Maslow.
In line with Maslow's needs theory, this discussion will be taken on a theory that is fundamental needs developed by Lindgren (1980). Fundamental meaning here in general each individual has this requirement. Lindgren basic needs of individuals classified into 4 aspects, which in fact there is also in the theory of needs by Maslow.
Classification of four aspects of
these needs are as follows.
Jenjang
|
Deskripsi
|
Karakteristik
|
4
|
Aktualisasi
|
Kebutuhan yang terkait dengan
pengembangan diri yang lebih rumit dan bersifat sosial.
|
3
|
Kebutuhan untuk memiliki
|
Kebutuhan yang terkait dengan
mencari teman, atau pegangan pada orang lain.
|
2
|
Perhatian dan kasih sayang
|
Kebutuhan ini berkaitan erat
dengan kebutuhan untuk memiliki. Bisa berupa kebutuhan untuk diperhatikan,
diterima atau diakui teman.
|
1
|
Kebutuhan Jasmaniah, termasuk
keamanan dan pertahanan diri
|
Berkaitan dengan pemeliharaan dan
pertahanan diri yang sifatnya individual.
|
Pembagian keempat aspek kebutuhan di
atas juga bersifat hierarkis dari kebutuhan yang mendasar yaitu jasmani hingga
aktualisasi diri.
Sedangkan Morgan menyatakan bahwa
orang dewasa memiliki empat kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan untuk melakukan suatu aktivitas. Hal ini sangat
penting bagi orang dewasa karena suatu aktivitas mengandung suatu kegembiraan
baginya.
2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain. Banyak orang dewasa
yang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak berbuat sesuatu demi
kesenangan orang lain. Harga diri seseorang dapat dinilai dari berhasil
tidaknya usaha memberikan kesenangan pada orang lain. Hal ini sudah tentu
merupakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang melakukan
kegiatan tersebut.
3. Kebutuhan untuk mencapai hasil. Suatu pekerjaan itu akan
berhasil baik, kalau hasilnya mendapat “pujian”. Aspek pujian ini merupakan
dorongan bagi orang dewasa untuk bekerja dengan giat.
4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan. Suatu kesulitan atau
hambatan, mungkin menimbulkan rasa rendah diri pada orang dewasa, tetapi hal
ini dapat menjadi dorongan untuk mencari kompensasi dengan usaha yang tekun dan
luar biasa, sehingga tercapai kelebihan atau keunggulan dalam bidang tertentu.
While Morgan stated that adults have
four requirements, namely:
1. The need to perform an activity. It is very important for adults because of an activity containing a joy for him.
2. The need to please others. Many adults in his life has a lot of motivation to do something for the pleasure of others. Self-esteem a person can be judged from the success of the effort to give pleasure to others. This certainly is its own satisfaction and happiness for people who perform these activities.
3. The need to achieve results. A job that would work well, if the result get a "compliment". Aspects of this praise is an encouragement for adults to work hard.
4. The need to overcome adversity. A difficulty or obstacle, may lead to low self-esteem in adults, but this can be a boost to seek compensation with diligent effort and extraordinary, in order to reach the excess or superiority in a particular field.
1. The need to perform an activity. It is very important for adults because of an activity containing a joy for him.
2. The need to please others. Many adults in his life has a lot of motivation to do something for the pleasure of others. Self-esteem a person can be judged from the success of the effort to give pleasure to others. This certainly is its own satisfaction and happiness for people who perform these activities.
3. The need to achieve results. A job that would work well, if the result get a "compliment". Aspects of this praise is an encouragement for adults to work hard.
4. The need to overcome adversity. A difficulty or obstacle, may lead to low self-esteem in adults, but this can be a boost to seek compensation with diligent effort and extraordinary, in order to reach the excess or superiority in a particular field.
PEMBAHASAN
Kebutuhan dasar manusia keberadaanya
dalam lingkungan hidup juga menimbulkan masalah sikap kejiwaannya.
A. Faktor
Internal
Faktor internal yang mempengaruhi
seseorang dapat berbeda-beda. Dalam kehadiran seseorang dalam lingkungan hal
itu sangat tergantung pada:
(1) Jati diri
yang merupakan refleksi dari egoisme seseorang, yakni dari kepercayaan diri,
kemandirian maupun keyakinan akan kompetensi maupun perasaannya dalam
kehidupan.
(2) Empati yakni
kemampuan untuk mengenal dan memahami perasaan orang lain dalam sistem sosial
dimana dia berada. Dengan empati seseorang akan berusaha untuk “kompromi” dalam
menyesuaikan diri dengan sistem sosial dimana dia berada.
(3) Altruisme yakni
sikap dan perilaku untuk berusaha menolong orang lain, bahkan kadang-kadang
dengan mengesampingkan keperluan diri sendiri. Jadi sikap yang terpuji adalah
gabungan antara egoisme, empati dan altruisme, karena dengan sikap ini
sebenarnya seseorang juga harus memantapkan jati dirinya sendiri terlebih
dahulu. Kepentingan orang lain yang harus di tolong pun harus berdasarkan
menolongnya agar dia mampu mandiri untuk dapat mengikis ketergantungan pada orang
lain.
B. Faktor eksternal
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita juga sangat mendapatkan pengaruh faktor
eksternal, yakni faktor perilaku kepedulian sesama dan faktor kehormatan.
(1) Kepedulian atau caring
for, faktor diperhitungkan keberadaan kita; selengkapnya faktor eksternal
yang kita harapkan adalah caring, loving and belonging within the
society where one belongs.
(2) Kehormatan atau
sikap esteem,mulai dari self-esteem, kehormatan diri antar sesama (lihat
Maslow
1970).
C. Faktor Transendental
Tuhan menciptakan manusia dengan
segenap perangkat dan pengada agar selalu berupaya meningkatkan kesejahteran
hidupnya. Jadi hari esok harus lebih baik dari hari ini, sehingga rugilah kita
kalau keadaan esok hari sama dengan hari ini.
Perkembangan seorang anak hingga
mencapai kedewasaan pada dasarnya memilki kebutuhan sosial psikologis yang juga
ikut berkembang.
Kebutuhan
Anak Kecil
Teori kebutuhan menurut Lindgren
(1980) bisa dianggap mewakili untuk menjelaskan perbedaan kebutuhan pada
tahapan usia anak SD. Lindgren mengklasifikasikan kebutuhan dasar menjadi 4
aspek:
a. Kebutuhan Jasmaniah
Sesuai dengan perkembangan fisik
anak yang bersifat individual, pada masa tumbuh kembang tersebut, kebutuhan
anak akan bervariasi misalnya seperti porsi makanan dan minuman meningkat.
Karena perkembangan tubuh dan juga kognitifnya, anak membutuhkan makanan
bergizi sehingga perkembangan fisik dan intelektualnya tidak terhambat.
b. Kebutuhan akan Kasih Sayang
Pada tahap perkembangan anak usia
SD, sudah ingin memilki teman-teman tetap. Perkembangan tersebut juga sejalan
dengan kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi teman. Tidak hanya rasa kasih
terhadap teman saja, tetapi juga sudah ada kebutuhan untuk memberikan rasa
cinta terhadap suatu benda. Misalnya mengoleksi sesuatu yang merupakan
kesenangannya berupa boneka, komik, kartu ucapan dan sebagainya yang dirawat
hati-hati serta rasa sayang.
Pada anak-anak yang duduk di kelas
tinggi (4, 5 atau 6) yang memasuki masa bersosialisasi dan meninggalkan
keakuannya, dapat menerima suatu otoritas orang tua dan guru sebagai suatu yang
wajar.
c. Kebutuhan untuk memiliki
Pada masa usia di kelas-kelas rendah
di SD, anak-anak sudah mulai meninggalkan dirinya sebagai pusat perhatian.
Namun demikian, anak-anak di kelas rendah di SD masih suka memuji diri sendiri,
dan membanding-bandingkan dirinya dengan teman. Sehingga kebutuhan untuk
memiliki dan dimiliki masih dominan. Artinya, segala sesuatu baik teman-teman
di sekolah maupun guru dipandang sebagai pusat dirinya sendiri, sehingga
kadang-kadang, anak usia ini suka meremehkan atau mengacuhkan pendapat teman
atau guru. Seperti pada kebutuhan-kebutuhan lainnya, kebutuhan untuk memiliki
pada setiap anak akan berbeda tergantung dari perkembangannya. Sedangkan
kebutuhan untuk dimiliki adalah berhubungan dengan mulainya masa membentuk gang
atau kelompok bermain.
d. Kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan ini relatif lebih abstrak
dan kompleks, dan merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang pada dasarnya
merupakan perkembangan dari kebutuhan-kebutuhan sebelumnya. Anak-anak mulai
ingin merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya sehingga anak berusaha
memenuhi kebutuhan tersebut dengan sikap persaingan, atau berusaha mewujudkan
keinginannya, berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai prestasi (need for
achievement).
Berkaitan dengan kebutuhan
pemeliharaan dan pertahanan diri, anak (usia SD) memasuki tahapan perkembangan
moral dan sosial yang memperhatikan pemuasan keinginan dan kebutuhannya sendiri
tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Dihubungkan dengan Perkembangan
Peserta Didik, seorang guru perlu memberikan kesadaran kepada peserta didiknya
bahwa dia dapat menghindari hukuman dengan memohon maaf dengan cara yang baik
agar tidak terkena sanksi. Pada masa usia SD anak juga sudah mulai merasakan
adanya kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya baik secara fisik maupun
psikis dari orang lain. Kebutuhan rasa aman pada peserta didik akan terpenuhi
apabila guru dapat menghadirkan suasana kelas yang tenang dan damai. Seperti
dijelaskan sebelumnya, seorang guru perlu memberikan stimulus-stimulus yang
dapat menyadarkan siswa bahwa disiplin dan aturan belajar yang disepakati dan
dikompromikan adalah perlu.
Sehubungan dengan pemenuhan beberapa
kebutuhan melalui disiplin, Hurlock (1978) mengemukakan bahwa disiplin berguna
bagi anak untuk:
ü Memberikan
rasa aman kepada anak, dengan memberitahukan kepada mereka secara tegas apa
yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan;
ü Dapat
membantu anak untuk menghindari rasa bersalah atau malu karena telah berbuat
salah. Hal ini dapat terjadi karena disiplin memungkinkan anak untuk hidup
sesuai standar yang telah disepakati dan mendapat persetujuan oleh kelompok
sosialnya;
ü Berusaha
belajar bersikap sesuai dengan cara yang akan mendatangkan pujian yang akan
ditafsirkan sebagai tanda sayang dan penerimaan;
ü Mendorong
anak mencapai apa yang diharapkan dari dirinya, jika disiplin tersebut sesuai
dengan perkembangan dirinya.
ü Membantu
anak mengembangkan hati nuraninya, dan mengasah intuisi dalam dirinya, sehingga
dia dapat mengambil keputusan secara bertanggungjawab dan juga dapat
mengendalikan tingkah laku.
Kebutuhan psikologis remaja pada
dasarnya berkembang dari kebutuhannya dari usia anak kecil (usia SD) dan
berkembang lagi sehingga memiliki kebutuhan-kebutuhan psikologis sebagai orang
dewasa. Kebutuhan psikologis yang paling mendasar yang mempengaruhi anak remaja
adalah Kemandirian.
Memperoleh kebebasan (mandiri)
merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut berarti remaja
harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat
keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab
atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan
berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan pada orangtua atau orang
dewasa lainnya dalam banyak hal. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat
para ahli perkembangan yang menyatakan: “Berbeda dengan kemandirian pada
masa anak-anak yang lebih bersifat motorik, seperti berusaha makan sendiri,
mandi dan berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian tersebut lebih
bersifat psikologis, seperti membuat keputusan sendiri dan kebebasan
berperilaku sesuai dengan keinginannya”.
Dalam pencarian identitas diri,
remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan
psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai
orang dewasa. Hal ini dikemukan Erikson (dalam Hurlock,1992) yang menamakan
proses tersebut sebagai “proses mencari identitas ego”, atau pencarian diri
sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui peranan dan kedudukannya
dalam lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Kemandirian seorang remaja diperkuat
melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dan teman sebaya. Hurlock
(1991) mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, remaja
belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima (bahkan
dapat juga menolak) pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan
mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam kelompoknya. Kelompok teman
sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup
bersama dengan orang lain yang bukan angota keluarganya. Ini dilakukan
remaja dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok teman
sebayanya sehingga tercipta rasa aman. Penerimaan dari kelompok teman sebaya
ini merupakan hal yang sangat penting, karena remaja membutuhkan adanya penerimaan
dan keyakinan untuk dapat diterima oleh kelompoknya.
Dalam mencapai keinginannya untuk
mandiri sering kali remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan oleh
masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Dalam contoh
yang disebutkan diatas, remaja mengalami dilema yang sangat besar antara
mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia
mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi (biaya sekolah) remaja akan
terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya, sebaliknya jika ia
tidak mengikuti kemauan orangtua bisa jadi orangtuanya tidak mau membiayai
sekolahnya. Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang
ambivalensi dan dalam hal ini akan menimbulkan konflik pada diri sendiri
remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri,
sehingga sering menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan
sekitarnya. Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustrasi
dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orangtuanya atau orang lain di
sekitarnya. Frustrasi dan kemarahan tersebut seringkali diungkapkan dengan
perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap orangtua maupun orang lain dan
dapat membahayakan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Hal ini tentu saja
akan sangat merugikan remaja tersebut karena akan menghambat tercapainya
kedewasaan dan kematangan kehidupan psikologisnya.
v Kebutuhan
Orang Dewasa
Apa dorongan orang dewasa melakukan
aktivitas? Pertanyaan ini cukup mendasar untuk dikaji melalui teori tentang
kebutuhan.
Setiap orang dewasa mempunyai
kebutuhan-kebutuhan yang pemunculannya sangat bergantung pada kepentingan orang
dewasa tersebut. Berkenaan dengan ini, Maslow mengajukan need hierarchy
theory untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan tingkat kebutuhan
orang dewasa. Menurut maslow, kebutuhan-kebutuhan orang dewasa dapat
digolongkan ke dalam lima tingkatan, yaitu:
1. Kebutuhan yang bersifat biologis
2. Kebutuhan rasa aman
3. Kebutuhan-kebutuhan sosial
4. Kebutuhan akan harga diri
5. Kebutuhan untuk berbuat yang terbaik
Kebutuhan orang dewasa tersebut
bersifat dinamis. Artinya kebutuhan tersebut berubah-ubah sesuai dengan sifat
kehidupan manusia itu sendiri. Sesuatu yang menarik, diinginkan dan dibutuhkannya
pada suatu saat tertentu, mungkin tidak lagi menarik dan tidak dihiraukan lagi
pada waktu lain.
Apabila Maslow mengemukakan lima
kebutuhan orang dewasa dan Morgan mengemukakan 4 kebutuhan orang dewasa, Murray
dan Edwards mengungkapkan 15 aspek kebutuhan orang dewasa.
Jenis-Jenis Kebutuhan Psikologi
Menurut Murray (Hall & Lindzey,
1993), adanya kebutuhan dapat disimpulkan dari hal-hal sebagai berikut:
a. Akibat atau hasil akhir tingkah laku
b. Pola atau cara khusus tingkah laku yang bersangkutan
c. Perhatian dan respons selektif terhadap kelompok objek
stimulus tertentu
d. Ungkapan emosi atau perasaan tertentu
e. Ungkapan kepuasan apabila akibat tertentu dicapai atau
kekecewaan apabila akibat itu tidak tercapai.
Berdasarkan hal-hal tersebut di
atas, Murray (Hall & Lindzey) menggolongkan kebutuhan psikologi menjadi 20
jenis, sebagai berikut:
1) Kebutuhan akan sikap merendah
2) Kebutuhan akan berprestasi
3) Kebutuhan akan afiliasi
4) Kebutuhan akan agresi
5) Kebutuhan akan otonomi
6) Kebutuhan akan “counteraction”
7) Kebutuhan akan membela diri
8) Kebutuhan akan sikap hormat
9) Kebutuhan akan dominasi
10) Kebutuhan akan eksibisi
(menonjolkan diri)
11) Kebutuhan akan menghindari
bahaya
12) Kebutuhan akan menghindari rasa
hina
13) Kebutuhan akan sikap memelihara
14) Kebutuhan akan ketertiban
15) Kebutuhan akan permainan
16) Kebutuhan akan penolakan
17) Kebutuhan akan keharuan
18) Kebutuhan akan seks
19) Kebutuhan akan pertolongan dalam
kesusahan
20) Kebutuhan akan pemahaman
Dari 20 macam kebutuhan yang
dikemukakan oleh Murray tersebut, Edwards menyusun sebuah alat inventori
kepribadian, yang disebut sebagai Edwards Personal Preference Schedule, yang
mengukur 15 macam kebutuhan manusia, yaitu:
1) Achievement needs, yaitu kebutuhan seseorang untuk mencapai prestasi baik
dalam bidang akademis maupun dalam kehidupan sosial
2) Order needs; kebutuhan seseorang untuk menyesuaikan diri, mengikuti,
menuruti norma yang berlaku di lingkungan
3) Deference needs; kebutuhan seseorang akan ketertiban, keteraturan, dan
kerapihan yang menunjukkan tanggung jawab
4) Exhibition needs; kebutuhan untuk menunjukkan diri, optimimis, percaya diri
atau bisa juga pamer diri.
5) Autonomy needs; kebutuhan untuk melakukan sesuatu hal secara mandiri,
tidak dipengaruhi oleh orang lain, merasa bebas melakukan dan membuat keputusan
sendiri
6) Affiliation needs; kebutuhan untuk menjalin hubungan social dengan orang
lain, terlibat dalam kegiatan kelompok ataupun setia dengan teman
7) Intraception needs; kebutuhan untuk mengetahui keadaan perasaan dan alasan
dari sikap/perilaku orang lain
8) Succorance needs; kebutuhan untuk mendapatkan bantuan atau dukungan dari
orang lain saat menghadapi kesulitan
9) Dominance needs; kebutuhan untuk mempengaruhi, memimpin dan mendominasi
orang lain.
10) Abasement needs; kebutuhan untuk merasa bersalah saat melakukan kesalahan
atau menjadi orang yang disalahkan
11) Nuturance needs; kebutuhan untuk memperlakukan orang lain dengan kasih
sayang, menolong dan membimbing orang lain
12) Change needs; kebutuhan akan adanya perubahan, melakukan sesuatu yang
berbeda, mengalami sesuatu yang baru dan jauh dari rutinitas
13) Endurance needs; kebutuhan untuk tetap bertahan sampai selesai dalam
mengerjakan sesuatu/tugas atau berusaha keras dalam menyelesaikannya
14) Heterosex needs; kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis,
terlibat dalam kegiatan social dengan lawan jenis
15) Aggression needs; kebutuhan untuk mencapai tujuan yang progresif
Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa
tersebut merupakan perpaduan antara kebutuhan yang bersumber pada dirinya dan
tuntutan lingkungannya. Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, orang
dewasa dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan sehingga mereka
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Berikut ini adalah tugas-tugas
perkembangan masa dewasa:
1. Tugas-tugas perkembangan masa dewasa (muda)
a. Mengembangkan sikap wawasan dan pengalaman nilai-nilai agama
b. Memperoleh atau memulai suatu pekerjaan
c. Memilih pasangan
d. Mulai memasuki pernikahan
e. Belajar hidup berkeluarga
f. Mengasuh dan mendidik anak
g. Mengelola rumah tangga
h. Memperoleh kemampuan dan kemantapan karier
i. Mengambil tanggungjawab atau peran sebagai warga masyarakat
j. Mencari kelompok sosial yang menyenangkan
2. Tugas-tugas perkembangan masa dewasa (madya)
a. Memantapkan pengalaman nilai-nilai agama
b. Mencapai tanggungjawab sosial sebagai warga negara
c. Membantu anak yang sudah remaja untuk belajar menjadi orang
dewasa yang bertanggungjawab dan bahagia
d. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
yang terjadi pada aspek fisik (penurunan kemampuan atau fungsi)
e. Memantapkan keharmonisan hidup berkeluarga
f. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam
karier
g. Memantapkan peran-perannya sebagai orang dewasa
3. Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa lanjut (Masa Tua)
a. Lebih memantapkan diri dalam mengamalkan norma dan atau
ajaran agama
b. Mampu meyesuaikan diri dengan menurunnya kemampuan fisik dan
kesehatan
c. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya
penghasilan keluarga
d. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
e. Membentuk hubungan dengan orang lain yang seusia
f. Memantapkan hubungan yang lebih harmonis dengan anggota
keluarga (anak, menantu dan cucu)
Beberapa kebutuhan psikologis pada
diri seorang individu agar individu tersebut mampu mengembangkan kepribadiannya
secara sehat (Elmira, 1997),
1) Adanya kebutuhan untuk dihargai atas prestasi yang
dicapainya
2) Adanya kebutuhan untuk dapat menyesuaikan diri dengan tata
cara/aturan-aturan lingkungannya.
3) Adanya kebutuhan untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas
yang telah dilaksanakannya
4) Adanya kebutuhan untuk dapat diterima apa adanya oleh
lingkungannya
5) Adanya kebutuhan untuk mandiri
6) Adanya kebutuhan untuk mendapatkan teman-teman dan
orang-orang yang dapat menjalin pergaulan secara hangat dan harmonis
7) Adanya kebutuhan untuk terlbat secara emosional dengan
lingkungannya
8) Adanya suatu kebutuhan untuk dimanjakan oleh orang lain
9) Adanya kebutuhan untuk mengadakan suatu perubahan ke arah
yang lebih baik.
10) Adanya kebutuhan untuk dapat
menyalurkan dorongan emosinya.
KESIMPULAN
Dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan seorang anak menuju kedewasaan, terjadi perubahan-perubahan atau
perkembangan kebutuhan secara psikis. Perkembangan kebutuhan psikologis
seseorang bergantung juga pada individu tersebut.
Perkembangan kebutuhan psikologis
dari anak kecil hingga remaja dan memasuki usia yang dikatakan dewasa
sebenarnya adalah satu kesatuan yang terintegrasi.
In the process of growth and
development of a child to adulthood, changes occur in psychological or developmental
needs. The development of one's psychological needs also depend on the
individual.
The development of the psychological needs of young children through adolescence and adulthood into old age is saying is actually an integrated whole.
The development of the psychological needs of young children through adolescence and adulthood into old age is saying is actually an integrated whole.
Awal perkembangan kebutuhan
psikologis seorang anak dimulai dari kebutuhan jasmaniah (termasuk rasa aman
dan pertahanan diri), kebutuhan akan kasih sayang, setelah itu mulai masuk pada
kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri yaitu terkait dengan pengembangan diri
yang lebih rumit dan bersifat sosial.
Setelah itu, individu berkembang
lagi menjadi individu yang dikatakan remaja yaitu masa atau usia peralihan dari
anak-anak menjadi orang dewasa. Pada masa ini lebih memusatkan dirinya pada
kebutuhan untuk mandiri, mulai ingin melepaskan dirinya dari ketergantungan
akan orang dewasa seperti orang tua dan atau guru (di sekolah). Remaja mulai
belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat
keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab
atas segala sesuatu yang dilakukannya.
Masuk pada masa dewasa, individu
mulai merasakan kompleksitas hidup karena harus lepas dari sifat ketergantungan
terhadap orang lain (memiliki kemandirian dan rasa tanggungjawab sepenuhnya
akan dirinya). Hal ini menyebabkan individu tersebut mencapai suatu keinginan
akan kebutuhan-kebutuhan yang lebih bersifat psiko-sosial.
Setiap kebutuhan manusia dari
anak-anak hingga dewasa tersebut bersifat dinamis. Artinya kebutuhan tersebut
berubah-ubah sesuai dengan sifat kehidupan manusia itu sendiri.
Every human needs from children to
adults that are dynamic. This means that these needs vary according to the
nature of human life itself.
SARAN
Dari segi kebutuhan psikologis anak
usia SD, bimbingan, didikan dan pengajaran untuk disiplin dan sikap tidak
mementingkan diri sendiri dari orang tua maupun guru di sekolah sangat
diperlukan untuk membangun pemikiran dasar yang baik pada anak-anak.
Dari segi kebutuhan psikologis anak
remaja, pemahaman orangtua terhadap kebutuhan psikologis remaja untuk mandiri
sangat diperlukan dalam upaya mendapatkan titik tengah penyelesaian
konflik-konflik yang dihadapi remaja.
Dari segi kebutuhan psikologis orang
dewasa, sebenarnya ditentukan dari perkembangan individu tersebut sejak dari
anak-anak. Agar pemenuhan kebutuhan psikologis orang dewasa terpenuhi terdapat
tugas-tugas perkembangan yang harus dilakukan yang telah dijelaskan dalam
pembahasan.
DAFTAR PUSTAKA
http://episentrum.com/artikel-psikologi/psikologi-remaja-karakteristik-dan-permasalahannya/#more-190
Tidak ada komentar:
Posting Komentar